Terdakwa Norzambri di persidangan

PN MEDAN-M24

Warga Negara (WN) Malaysia, Norzambri bin Zainal (52) melalui penasehat hukumnya, Bambang Hendarto SH dan rekan membacakan pembelaan (pledoi) dalam persidangan kasus dugaan kepemilikan sisa sabu di ruang Cakra VII Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (9/7) sore.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Tengku Oyong, Bambang menjelaskan bahwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jacky Situmorang yang menuntut Norzambri selama 3 tahun 6 bulan penjara dengan gigih mencari kesalahan kliennya.

Semakin gigihnya, lanjut Bambang, JPU menyebabkan kekeliruan serta mengabaikan serangkaian kondisi yang terkesan dipaksakan dan cacat hukum.

Loading...

“Seharusnya penuntut umum sejak awal jeli melihat kondisi perkara yang diserahkan kepadanya untuk disidangkan dan bukan yang diserahkan kepadanya secara ‘buta perkara’ serta hanya perintah atasan saja,” jelasnya.

Bambang menerangkan, bahwa dakwaan JPU cacat hukum karena terdakwa tak didampingi penasehat hukum selama persidangan. Selain itu, dakwaan juga tidak didukung dua alat bukti yang cukup. “Oleh karena itu, surat tuntutan terindikasi adanya unsur rekayasa perkara,” terangnya.

Ia menyebut bahwa barang bukti sisa sabu dalam bong yang menjerat terdakwa diragukan kepemilikannya dan penyidik tidak patut dijadikan saksi. “Terdakwa adalah pecandu yang seharusnya direhabilitasi bukan dipenjara,” sebut Bambang.

Usai membacakan pledoi, penasehat hukum terdakwa memberikan surat permohonan rehabilitasi kepada majelis hakim.

Sebelum sidang ditutup, terdakwa Norzambri mempertanyakan tentang penahanannya yang sudah 6 bulan lebih dan belum diputus. Hakim Oyong menjelaskan bahwa penahanan bisa diperpanjang hingga tingkat Pengadilan Tinggi (PT) Medan.

“Masa penahanan terdakwa habis tanggal 21 Juli 2019. Jadi mudah-mudahan sebelum tanggal 21 (Juli) sudah diputus,” jelasnya seraya menutup sidang. (ansah)