Personel Ditpolair saat melakukan patroli.

BELAWAN-M24

Dalam upaya mewaspadai masuknya teroris melalui jalur perairan, Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Sumut melakukan antisipasi dengan meningkatkan pengawasan dan pencegahan melalui intelijen.

Demikian dikatakan Kasubdit Gakkum Ditpolair Polda Sumut, AKBP Nagari Siahaan di Mako Ditpolair Poldasu, Jumat (15/3) sekitar pukul 10.00 WIB. Menurutnya, selama ini Ditpolair Polda Sumut terus menerapkan penegak hukum di wilayah perairan dengan melakukan pemantapan pengawasan serta intelijen secara manual dan teknologi.

Lebih lanjut disampaikannya, mengenai antisipasi terhadap pelaku teror dengan memanfaatkan jalur laut sebagai pintu masuk ke luar negeri, pihaknya memprioritaskan pencegahan dan pengawasan dengan memperkuat data intelijen.

Loading...

“Kita terus melakukan pengawasan dan patroli. Intinya, peningkatan intelijen menjadi prioritas. Kita juga sudah melakukan pemetaan wilayah, di mana kawasan perairan rawan jadi pintu masuk dan keluarnya orang dicurigai,” ujarnya.

Dalam melakukan pengawasan, pihaknya melakukan patroli rutin dan berkoordinasi serta bersinergi dengan penegak hukum lain.

“Untuk memantau keluar dan masuknya kapal dari luar negeri, kita juga melakukan koordinasi,” bilangnya.

Dijelaskannya, pihaknya terus mengawasi berbagai jenis kapal yang berlayar di laut. Itu dilakukan, untuk mengecek barang atau orang-orang yang berada di kapal tersebut. Dengan pendataan dan pengawasan penuh, personel Ditpolair Polda Sumut dapat mengidentifikasi orang yang dicurigai.

“Pengawasan ini lebih cenderung kepada kapal nelayan. Untuk kawasan perbatasan, jadi prioritas kita mengecek aktivitas nelayan agar mampu teridentifikasi barang atau orang dicurigai dari negara luar khususnya Malaysia,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Imigrasi Belawan, Samuel Toba menjelaskan, Imigrasi tetap mengawasi keluar masuk antar negara. Pihaknya tetap melakukan pengawasan keluar masuknya warga melalui Pelabuhan Belawan khususnya kepada kapal niaga yang datang dari luar negeri.

“Sistem kerja kita terus melakukan koordinasi antar negara. Bila ada warga negara Indonesia yang keluar dan masuk ke negara yang kita curigai, maka kita lakukan pengawasan dengan berkoordinasi dengan aparat lain,” terangnya.

Sejauh ini, kata Samuel, untuk orang asing yang masuk melalui Pelabuhan Belawan, umumnya bagian dari pekerja kapal niaga. Sehingga belum ada indikasi kecurigaan terhadap tindakan teror.

“Yang jelas, secara data terus kita awasi dan kita cek. Artinya, untuk masuk dan keluarnya warga negara asing atau dalam negeri, terus kita lakukan koordinasi keluar atau masuknya orang dari negara luar tersebut,” pungkasnya.(syamsul)