Petugas memantau aliran lahar dingin Gunung Sinabung.

KARO-M24

Memasuki musim penghujan saat ini, masyarakat yang tinggal di seputar Gunung Sinabung diimbau untuk selalu waspada. Terutama pada warga yang tinggal di dekat jalur aliran lahar dingin.

Imbauan itu disampaikan Komandan Satuan Tugas Gunung Sinabung (Dansatgas) Letkol Inf Taufik Rizal Batu Bara SE melalui Danramil 05/Payung Kapten Arh Erlaba Perangin angin, Minggu (10/3).

Dikhawatirkannya, apabila hujan turun secara terus menerus. Air dan material bebatuan dari puncak Gunung Sinabung akan melanda pemukiman warga.

Loading...

“Ketika musim penghujan, yang patut diwaspadai adalah banjir lahar dingin. Karena material-material yang ada di puncak dan badan gunung masih labil,” ujarnya.

Berdasarkan informsi yang diperolehnya ada beberapa desa yang dekat dengan aliran lahar dingin, seperti Desa Perbaji, Gurkinayan, Sukatendel serta desa lainnya di Kec Tiganderket.

“Namun, ada dua desa yang harus diberikan perhatian lebih, khususnya Desa Marinding dan Perbaji. Jadi masyarakat harus selalu waspada,” pintanya.

Selain itu, lanjutnya, keberadaan dua danau baru di sekitar kaki Gunung Sinabung juga wajib menjadi perhatian serius. Ditakutkan, material turun dan bisa kapan saja terjadi longsor akibat jebol tanggulnya.

“Kalau danau di atas longsor atau jebol, pasti akan terjadi seperti banjir bandang tapi skala kecil. Itu juga masuk ke jalur laharan. Makanya kita imbau masyarakat tetap berada di zona aman untuk mengantisipasi kejadian yang tidak kita inginkan,” katanya.

Diketahui, sejak beberapa bulan terakhir Gunung Sinabung tidak menunjukkan tanda-tanda aktivitas yang tinggi. Hanya saja, status terakhir erupsi Gunung Sinabung pada Februari pada status Awas level IV.

“Melihat perkembangan dari aktivitas Gunung Sinabung dan kondisinya tetap stabil, maka ada kemungkinan statusnya akan diturunkan. Sedangkan waktu untuk menentukan statusnya dapat diturunkan, harus menunggu waktu yang cukup lama,” cetusnya lagi.

Disebutkannya, saat ini seluruh pihak terkait terhadap keadaan gunung tertinggi di Sumatera Utara masih terus melakukan evaluasi. Seluruh masyarakat tetap diimbau untuk terus waspada dan tidak masuk ke dalam zona merah.

“Kalau untuk aktivitas seperti erupsi memang sudah mulai menurun, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Begitujuga dengan gempanya. Tapi kita lihat, namanya gunung api sewaktu-waktu bisa erupsi,” pungkasnya. (sekilap)