Tersangka Kasus Penjualan Kulit Harimau

MEDAN-M24

Penjualan kulit Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) dan kulit Macan Dahan (Neofis Diardi), dibongkar Ditreskrimum Polda Sumut. Pelaku menghargai masing-masing kulit hewan dilindungi itu Rp17 juta.

Direktur Reskrimsus Polda Sumut, Kombes Pol Rony Samtana, menyampaikan kedua kulit hewan ini didapat dari tersangka berinisial IS alias Pak Wito (65), warga Dusun Pantai Gadung, Desa Bukit Mas, Kec Besitang, Kab Langkat.

“Penangkapan ini dilakukan setelah kita menyamar sebagai pembeli,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (31/1).

Loading...

Rony menceritakan, penangkapan tersebut dilakukan pada Minggu (27/1). Penyidik Subdit IV Ditreskrimsus sebelumnya menerima informasi adanya terjadi dugaan tindak pidana memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau organ satwa dilindungi yang dilakukan oleh Pak Wito.

Berbekal informasi tersebut, petugas melakukan penyamaran dan membuat janji dengan Pak Wito untuk melakukan pembelian satu lembar kulit Harimau Sumatera.

“Setelah dilakukan transaksi, tim mendapatkan satu lembar kulit Harimau Sumatera dan satu lembar kulit Macan Dahan. Kondisinya terdapat bekas belahan pada bagian perut di lokasi kebun jeruk tepatnya di belakang rumah tersangka IS,” jelasnya.

Lebih lanjut Rony menerangkan, Pak Wito mendapatkan kedua kulit satwa dilindungi ini dari seorang pria berinisal H (50) dan R (35), warga Kuala Simpang, Aceh. Sedangkan untuk harga jual, sambungnya, tersangka mematok kedua kulit hewan buas tersebut masing-masing seharga Rp17 juta. “Kedua kulit satwa dilindungi ini selanjutnya akan diserahkan ke pihak BKSDA,” terangnya.

Dituturkan Rony, Pak Wito akan dikenakan dengan Pasal 21 ayat (2) huruf d, dengan ancaman pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta, sesuai dengan pasal 40 ayat (2) UU RI No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
“Sampai sekarang kita dapat informasi penjualan dilakukan ditingkat lokal. Tapi kalau kita prediksi yang seperti ini penjualan antarnegara,” tandasnya.

Sedangkan Pak Wito, mengaku kedua kulit satwa tersebut hanya dititipkan kepadanya oleh H dan R. Selain itu, ia juga mengaku tidak mengetahui jika kedua kulit hewan itu merupakan satwa yang dilindungi. “Saya tidak tahu. Hanya dititipkan dari Aceh,” ujarnya. (ahmad)

Editor : Donny