Pelaku cabul

KARO-M24

Pencabulan dialami oleh sembilan murid di salah satu SD di Sumbul, Kabanjahe. Pelaku merupakan wali kelas para murid tersebut.

Petugas dari Polres Tanah Karo yang menerima pengaduan cabul itu, kemudian merinkus pelaku berinisial AT (52) di rumahnya di Desa Sumber Mufakat, Kec Kabanjahe, Karo, Sabtu (16/11).
Aksi cabul AT terbongkar seusai seorang siswi bercerita pada orang tuanya. Korban ketika itu takut ke sekolah. Setelah ditanyai, ternyata pelajar tersebut telah dicabuli gurunya.
Pencabulan dilakukan di ruang kelas. Saat itu korban ditarik pelaku. Lalu dipangku di paha pelaku. Kemudian mencumbui korban dan meraba-raba kemaluan korban dari luar pakaian korban.
Mendengar pengakuan tersebut, orang tua korban mendatangi sekolah. Lalu bertemu dengan salah seorang guru di SD tersebut dan menceritakan kejadian yang dialami anaknya. Guru tersebut menanyakan kepada murid-murid di kelas 1 perihal kebenaran laporan itu.
Saat itulah 9 orang murid perempuan mengaku pernah dicabuli oleh pelaku. Kesembilan korban di antaranya berinisial EA (8), FK (7), SN (7), AE (7), NS (7), OEM (8), LS (7), NB (10), dan SA (8). Kemudian orang tua dan guru melaporkan kejadian ini ke Polres Tanah Karo.
“Dia (korban) bilang kalau gak mau sekolah karena takut. Minta diantar terus minta dijemput. Ketika ditanyain rupanya gurunya megang-megang kemaluannya,” jelas salah seorang orang tua korban yang biasa dipanggil Endang.
Saat mendengar pengakuan itu, dirinya datang ke sekolah disusul membuat laporan ke Polres Tanah Karo. “Rupanya pas ditanyain guru agama, ada lagi murid yang dilecehkan guru itu,” ucapnya.

Humas Polres Tanah Karo Aiptu Joni Sitepu, mengatakan pelaku merupakan wali kelas korban. Saat ini pelaku sudah diamankan di Unit Perlindungan Perempuan Anak (PPA) Polres Tanah Karo. “Pelaku merupakan wali kelas kesemua korban. Perbuatannya dilakukan di dalam ruang kelas. Sudah kita amankan untuk dimintai keterangan,” jelasnya kepada wartawan.
Lanjutnya kalau keseluruh korban sudah melakukan visum. Pihaknya juga sedang memeriksa saksi. Untuk pelaku, katanya, terancam perbuatan dijerat Pasal 82 ayat (1) dari UU RI No. 17/2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1/2016 tentang kedua atas UU RI No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak menjadi UU. (sekilap)