Bangkai babi di sungai.

MEDAN-M24

Terkait temuan ratusan bangkai babi di Sungai Bederah, Kec Marelan, Selasa (5/11), Pemko Medan harus segera melakukan tindakan.

Demikian disebutkan Ketua Fraksi PAN DPRD Medan, Edwin Sugesti Nasution kepada wartawan. Menurutnya keberadaan bangkai-bangkai babi itu sudah jelas memicu pencemaran lingkungan di kawasan tersebut.

“Pencemaran lingkungan sudah pasti terjadi. Dinas terkait dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan maupun Dinas Peternakan harus segera mengecek itu. Apakah ada timbul penyakit yang diderita masyarakat sekitar sungai akibat dampak bangkai tersebut,” ujarnya.

Loading...

Selain itu, Edwin mendesak dinas terkait untuk mengusut tuntas dari mana dan siapa yang membuang babi-babi itu ke sungai. Edwin juga tak menutup temuan bangkai babi itu dengan dugaan kolera babi (hog cholera).

“Dugaan soal virus itu bisa saja. Namun agar memastikan itu, sebaiknya dinas-dinas seperti kesehatan, lingkungan hidup dan ternak mulai melakukan pendeteksian. Datangi peternak-peternak yang terdata untuk dilakukan pengecekan,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, ratusan bangkai babi ditemukan mengapung di Sungai Bederah, Kec Marelan, Kota Medan, Selasa (5/11). Diduga bangkai ternak tersebut dibuang dari kawasan hulu, karena penduduk setempat tidak melakukan pembuangan bangkai tersebut.

“Kalau yang kami pantau ada ratusan. Kalau wilayah kami tidak ada yang membuang bangkai babi. Ini aliran dari beberapa kabupaten hingga mengalir wilayah kami,” ungka Yunus kepada wartawan di Medan, Selasa (5/11).

Yunus menjelaskan, pihaknya sudah mengarahkan Kepala Lingkungan setempat di Medan Marelan, untuk melakukan pemantauan dan mengintai siapa oknum tidak bertanggungjawab membuang bangkai babi tersebut.

Pihak Kecamatan Medan Marelan, sudah menerima laporan dari masyarakat sekitar terkait ditemukan bangkai babi, sejak Sabtu 2 Nopember 2019. Namun, hingga hari ini jumlah bangkai babi ditemukan semakin banyak.

Untuk penanganannya, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Kota Medan dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Medan dan pihak kepolisian untuk bersama-sama menangkap pembuang bangkai babi tersebut.

“Kita pinggirkan kita cari yang sanggup mengangkat. Itu kondisinya sudah empat hari mati susah mau ditarik aja sudah melebur dia (babi) sudah lembek, ada juga yang tarik ke darat. Yang sangkut-sangkut kita alirkan itu antisipasi kita,” jelas Yunus.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumut, M Azhar Harahap mengatakan, tercatat 4.047 ekor babi mati karena virus kolera babi dari September hingga awal November.

“Penyebaran virus ini melalui udara. Jika bangkai tidak ditanam, maka virus akan semakin menyebar. Saat ini sudah sebelas daerah yang terkena,” kata Harahap seusai rapat dengan Komisi E DPRD Sumut, gedung DPRD Sumut, Jln Imam Bonjol, Medan, Selasa (5/11).

Kasus pembuangan bangkai babi ke sungai itu semula diketahui terjadi di beberapa kabupaten di kawasan Tapanuli. Namun belakangan bangkai-bangkai babi juga sudah ditemukan di aliran sungai di Medan, seperti di Sungai Bedera, Medan Marelan.

Pembuangan bangkai secara sembarangan ini, menurut Harahap, akan membuat upaya menghadang penyebaran virus makin sulit. Berbagai upaya dilakukan, termasuk disinfektan dan pemberian vaksin kepada ternak di berbagai daerah.

Petugas, menurut Harahap, akan makin memperluas cakupan pemberian vaksin. Terutama daerah yang kini terjangkit di antaranya Kabupaten Dairi, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Karo, Deliserdang, dan Serdang Bedagai.

Selain itu, kata Harahap, pihaknya sudah meminta pemkab/pemkot membuat posko penanganan. Dengan begitu, penanganan kasus bisa dilakukan lebih cepat. (bar)