Jasad korban.

MEDAN-M24

Melakukan aborsi (menggugurkan kandungan) memilik risiko cukup besar. Nyawa bahkan jadi taruhan. Seorang wanita muda asal Nias yang nekat aborsi tewas berikut bayi dalam kandungannya.

Seorang wanita muda ditemukan tewas di dalam kamar mandi rumah majikannya dengan kondisi bersimbah darah. Tak jauh dari posisi korban ditemukan orok berjenis kelamin laki-laki diperkirakan berusia 7 bulan yang juga sudah tak bernyawa.

Peristiwa tragis itu terjadi di Jalan Hasanuddin, Kel Petisah Hulu, Kec Medan Petisah, Kota Medan, Sabtu (9/3) siang. Wanita muda malang itu adalah YL (21) warga Gunung Sitoli, Nias. Korban merupakan seorang pembantu rumah tangga (PRT) yang menetap di rumah majikannya.

Loading...

Kapolsek Medan Baru, Kompol Martuasah Tobing kepada wartawan, Minggu (10/3) mengatakan, mayat YL pertama kali ditemukan oleh Silvia (32), sang majikan. Sebelum ditemukan tak bernyawa, Silvia sempat mendatangi kamar dan memanggil-manggil YL. Namun bukannya menemukan YL, Silvia malah menemukan bercak darah di sekitaran pintu kamar korban.

“Biasanya jam 06:00 pagi, korban sudah keluar dan melakukan pekerjaan rutinnya. Karena itulah saksi (Silvia, red) mengecek ke kamar korban,” ungkap Kompol Martuasah Tobing.
Melihat ceceran darah yang tidak biasa, lanjut Martuasah, saksi Silvia pun mempertanyakannya kepada YL. Dari balik pintu kamar, YL mengaku jika dirinya sedang sedang datang bulan (menstruasi).

Meski begitu, Silvia yang saat itu bersama suaminya, Yopi (34) bersikeras meminta YL untuk membuka pintu kamar. Namun lagi-lagi YL tak jua membuka dengan alasan sedang tidak mengenakan pakaian.

“Suami Silvia sempat akan mendobrak. Karena korban mengatakan tidak menggunakan busana, niat untuk mendobrak pun urung dilakukan,” lanjutnya.

Pun begitu, Silvia dan Yopi tetap menunggu di depan pintu kamar YL. Tak lama, YL membuka pintu kamarnya. Namun tubuhnya tidak keluar semua. Melainkan hanya kepala dan mengatakan pada kedua saksi untuk meminta waktu sebentar.

“Saat korban membuka pintu kamar, korban mengatakan ‘sebentar ya kak’ kepada saksi. Saat itu saksi mengaku melihat korban sangat lemas,” sebut Martuasah.

Melihat keadaan YL yang tak seperti biasa, Silvia lantas memberikan susu kotak. Usai meminumnya, YL sempat menyatakan sudah agak membaik. Saat itu, YL juga meminta izin untuk beristirahat pada Silvia. Karena merasa kondisi YL sudah lebih mendingan, pasutri itu lalu meninggalkan YL di kamarnya.

“Karena korban bilang sudah mendingan, saksi meninggalkan kamar korban untukmengurus anaknya,” sebut Martuasah. Sementara itu, meski YL mengaku sudah mendingan, Silvia yang merasa prihatin tetap memantau situasi kamar pembantunya itu. Sekira pukul 10:00 WIB, Silvia sempat melihat YL keluar dari kamar dengan hanya mengenakan handuk. Melihat kondisi YL yang semakin lemas, Silvia lantas menyempatkan menggoreng telur untuk YL.
“Saat akan mengantarkan telur itu, saksi melihat korban sudah tertidur di lantai. Di sekitaran lantai kamar korban, saksi melihat banyak darah yang berceceran,” lanjut mantan Kapolsek Medan Kota itu.

Melihat itu, Silvia sontak histeris dan memanggil suaminya, Yopi. Dengan sigap Yopi menghubungi ambulans untuk membawa YL ke rumah sakit. Tak lama, ambulance dari salah satu rumah sakit tiba. Namun saat tubuh YL akan diangkat, sopir ambulans memastikan jika YL sudah tidak bernyawa. Alhasil, sang sopir ambulans tidak berani mengangkat tubuh YL dan memilih melaporkan kejadian itu ke Polsek Medan Baru.

Mendapan informasi tersebut, petugas Polsek Medan Baru segera meluncur ke lokasi bersama Tim Inafis Polrestabes Medan. Usai melakukan olah TKP dan memeriksa keadaan YL, petugas tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada korban. Namun, tak jauh dari jasad wanita asal Nias itu, petugas menemukan obat yang diduga untuk menggugurkan kandungan. Tak cuma itu, petugas yang melakukan pengecekan di setiap sudut rumah menemukan orok di dalam kamar mandi.

“Dari pemeriksaan luar kita tidak temukan tanda kekerasan. Tapi dari dalam kamar korban kita temukan 3 papan obat merek Sapros diduga dihunakan untuk menggugurkan kandungan,” beber Martuasah Tobing.

Petugas kemudian memboyong jasad YL ke RS Bhayangkara Medan untuk diotopsi. Sementara barang bukti berupa 3 papan obat dan satu unit HP milik YL turut diamankan.

“Setelah dilakukan otopsi, dugaan sementara korban meninggal dunia karena mengalami pendarahan hebat. Sementara bayi korban sudah tak bernyawa saat masih berada di dalam kandungan atau sebelum dikeluarkan secara paksa,” terang Martuasah.

Dijelaskan perwira berpangkat melati satu itu, jenazah YL dan bayinya telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk disemayamkan.

“Kita sudah melakukan tindakan cek dan olah TKP, memeriksa saksi, identifikasi korban, mengamankan barang bukti, membawa korban dan menyaksikan proses otopsi. Selanjutnya korban kita serahkan ke pihak keluarga,” pungkasnya. (tiopan)