Sikap lembut dan ramah diperlihatkan Titiek ke pedagang dan pembeli di Pusat Pasar, dengan tidak pernah menolak permintaan foto selfie.

MEDAN-M24
Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, tersenyum bahagia mendengar teriakan yel-yel “Prabowo-Sandi Menang” dari pedagang saat datang ke Pasar Sentral atau lebih dikenal dengan nama Pusat Pasar Sambu, Selasa (22/1).

Baru saja turun dari mobil, puluhan pedagang yang berjualan di Pusat Pasar sudah berebut minta foto bareng. “Sudah, biarkan saja. Saya juga ingin berfoto bersama pedagang,” kata Titiek kepada sejumlah kader Padi Berkarya Sumatera Utara yang mencoba mengatur para pedagang agar bergiliran berfoto bersama dirinya.

Senyum Titiek semakin cerah tatkala dari puluhan pedagang lain berteriak-teriak “Prabowo-Sandi Menang, Prabowo-Sandi Menang!”. Titiek mendongak ke atas, tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah pedagang di lantai dua tersebut.

“Luar biasa, surprise, saya sendiri selaku pengurus Padi Berkarya Sumut terkejut dengan antusiasme para pedagang,” kata Hadi, Sekretaris Padi Berkarya Sumut sambil mengiringi Titiek.

Loading...

Ternyata kabar kedatangan Titiek sudah meluas ke mayoritas pedagang di Pusat Pasar. Dalam kunjungan tersebut, Titiek memilih untuk mendengar keluhan para pedagang.

Tanpa rasa lelah, dia juga meladeni setiap pedagang yang ingin foto selfie dengan dirinya. Bahkan, Titiek ngotot naik tangga dari lantai satu hingga ke lantai tiga untuk menjumpai seluruh pedagang.

Di situ ia melihat fakta jika Pusat Pasar Sambu tidak lagi seramai dulu. “Jualan para pedagang hanya bisa laris kalau banyak pembelinya. Namun kini kan sepi pembeli, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

Menurut Titiek, sepinya pembeli menunjukan bahwa daya beli masyarakat sudah jauh berkurang. Kata dia, situasi seperti ini tidak bisa dibiarkan. “Ganti presiden, itu dulu yang dilakukan,” ucap Titiek.

Jika kepemimpinan nasional telah berganti, Titiek yakin, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mampu membuka lapangan pekerjaan sebanyak mungkin.

“Kalau banyak lapangan pekerjaan, artinya pengangguran berkurang. Masyarakat yang memiliki penghasilan akan bertambah. Nah, jika masyarakat banyak yang sudah berpenghasilan, berarti itu akan meningkatkan daya beli masyarakat itu sendiri,” kata Titiek.

Ia sendiri mengaku sedih mendengarkan curahan hati (curhat) para pedagang di Pusat Pasar Sambu yang mengklaim dagangan mereka tidak lagi selaris beberapa tahun lalu.

“Saya saja sedih mendengarnya (curhat para pedagang, red). Anda dengar sendiri teriakan Prabowo-Sandi Menang dari para pedagang kan? Mereka saja ingin perubahan,” tegas Titiek.

Pada kunjungan tersebut, Titiek menyempatkan diri untuk berbelanja ikan teri. Mak Endo Boru Panjaitan, salah satu pedagang ikan, sangat bahagia dengan sikap lembutnya.

“Tadi ibu Titiek beli ikan teri sekilo. Wah, saya senang anak Pak Harto, Presiden kedua kita, mau belanja ke Sambu. Saya kasih sekilo cumi-cumi gratis, eh, Ibu Titiek enggak mau terima kalau gratis. Saya beli, saya kan mau belanja ke sini. Begitu tadi kata Bu Titiek samaku. Ya aku senanglah. Baik kali ibu Titiek samaku,” katanya.

Kepala Daerah Diduga Ditekan Pemerintah
Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (Cawapres) Prabowo-Sandiaga Salahuddin Uno, Jansen Sitindoan menduga Kepala Daerah ditekan oleh pemerintah untuk menyatakan dukungan politik dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Aparat pemerintahan daerah kita saat ini disinyalir tertekan, sehingga mereka terpaksa menyatakan dukungannya kepada salah satu pasangan capres dan cawapres,” ujarnya di sela-sela peresmian Klinik Amanah Perawatan Korban Narkoba, di Desa Prapat Janji, Sei Silau Timur, Kabupaten Asahan, oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Bambang Soesilo Yudhoyono (SBY), Selasa (22/1) sekira pukul 10:25 WIB.

Jansen mengatakan seharusnya capres petahana percaya diri. Terlebih dengan hasil kinerja selama empat tahun lebih. Politisi Partai Demokrat ini membandingkannya dengan SBY. Menurutnya, dalam pilpres periode kedua 2009, Presiden RI VI itu tidak pernah menggalang politik dari setiap kepala daerah.

“Kenapa, karena selama 4,5 tahun kinerja SBY itu bagus. Elektabilitasnya bagus. Survey kinerjanya juga bagus, bahkan sampai ada ungkapan, siapapun yang disandingkan dengan SBY, SBY pasti menang,” sebut Jansen.

Terkait politik praktis dari sejumlah kepala daerah, lanjutnya, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi lebih santai. Menurut Jansen, kepala daerah yang diusung partai koalisi pemenangan Prabowo-Sandi cukup fokus memperbaiki daerahnya.

“Dalam pemahaman kami Bawaslu itukan indenpenden. Tidak berpihak ke 01 atau pun 02. Jika ada kesalahan di 01 atau di 02, Bawaslu harus proses,” tegasnya. (adlan/hendri)