Pendi dan Akhyar memberikan kesaksian di persidangan.

PN MEDAN-M24

Apriliani (Apriliana), terdakwa pemalsuan surat tak bisa berkilah lagi. Setelah dirinya mengklaim sebagai satu-satunya ahli waris, ternyata terbantahkan saat jaksa menghadirkan saudara kandungnya ke persidangan.

Dalam sidang yang digelar di ruang Cakra 7 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (3/12) sore, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Randi Tambunan menghadirkan dua orang saksi yakni masing-masing Akhyar Sagala dari saksi pelapor dan Pendi yang merupakan saudara kandung terdakwa.

“Kamu ada hubungan apa dengan terdakwa?,” tanya Ketua Majelis Hakim, Tengku Oyong kepada saksi Pendi. “Saudara kandung, dia adik saya,” jawab saksi Pendi.

Keterangan saksi Pendi, jelas kontras dengan pengakuan terdakwa yang menyebut bahwa dia merupakan anak tunggal dari Aguan Lai. Saat itu, kata saksi Pendi, dirinya tidak berkomunikasi dengan keluarga sejak tahun 2008.

Namun mirisnya, saksi yang mengaku mengetahui bahwa terdakwa menjual tanah yang disebutnya warisan orangtua, sebesar Rp8 miliar, hanya mendapatkan Rp10 juta.

“Cuma Rp10 juta, gak keberatan saudara?,” tanya hakim Oyong. “Tidak, namanya juga masih keluarga,” jawab saksi.

Sementara, saksi Akhyar Sagala menyatakan, bahwa terdakwa menjual tanah kliennya Anto dan Lina, melalui surat palsu. “Bukti kepemilikan sertifikat hak milik saksi korban. Kemudian surat dari catatan sipil tidak benar tentang surat ahli waris serta mengaku sebagai anak tunggal,” ungkapnya.

Dalam kasus ini, Akhyar menegaskan bahwa perbuatan terdakwa dirasa sudah sangat merugikan kliennya. Di akhir keterangannya, disebutnya terdakwa telah sangat jelas memalsukan ahli waris.

“Terdakwa punya saudara kandung bernama Pendi. Surat pernyataan dia (terdakwa) ahli waris di notaris tidak benar,” tegas Akhyar.

Sebelumnya dalam dakwaan jaksa menyebutkan, kasus ini bemula saat Ng Giok Lan (ibu kandung terdakwa Apriliani) mempunyai warisan tanah yang terletak di Jln Pancing II Lk II Kel Besar d/h Kampung Besar, Kec Medan Labuhan seluas 14.910 M2.

Terdakwa Apriliani menjual tanah tersebut atas dasar Surat Keterangan Hak Warisan Ahli Waris Kelas Satu Nomor: 12/NI/N-SKHW/III/2014 tanggal 17 Maret 2014 bertalian dengan Surat Keterangan No 470/971/RP-II/2014 tanggal 19 Februari 2014.

Akibat perbuatan terdakwa, kedua korban merasa keberatan dan melaporkannya ke Polda Sumut. Perbuatan terdakwa diatur dan diancam pidana melanggar Pasal 385 ke-1 KUHP subsider Pasal 263 ayat (1) KUHP. (ansah)