Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman, saat meninjau ternak ayam milik Seng Guan. (foto: ist/metro24.co)

DELI SERDANG, Metro24.co – Berniat ingin melebarkan usahanya untuk menambah kandang, kini Seng Guan pusing bukan kepalang. Usaha turun-temurun yang dirintis selama 37 tahun itu terancam ditutup. Namun anehnya, baru kali ini warga keberatan.

Saat disambangi ternak ayam milik Seng Guan di Dusun Banjar Negoro A, Desa Sidodadi Ramunia, Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, kondisi kandang tertata dengan baik. Meskipun bau, namun hal itu terbilang lumrah dan tidak seperti yang disangkakan warga yang menyebut baunya menyengat.

Kepada awak media, Seng Guan menyampaikan, adanya laporan pengaduan dari masyarakat untuk menutup kandang ini. “Alasannya katanya bau dan banyak lalat gitulah. Ada sekitar 40 warga samping dan belakang serta yang bermukim jauh dari lokasi ini yang menandatangani surat keberatan,” ujar Seng Guan.

(foto: ist/metro24.co)

Menurut dia, penutupan tempat usahanya berawal dari saat akan membuat kandang tambahan. “Mereka minta itu distop. Alasannya dari pencemaran, enggak sehatlah, masyarakat bilang banyak lalatlah. Tapi kita di sini sudah puluhan tahun beternak, enggak satupun ada yang complain. Tapi kenapa saat kita mau tambah kandang, itu dilarang dan sekarang mau ditutup,” ungkapnya.

Yang herannya, lanjut Seng Guan, saat dua kali pertemuan dengan warga, tak satupun warga yang menyampaikan aspirasinya. Malah, warga saling lempar untuk menyampaikan tuntutannya.

“Enggak ada yang berani ngomong. Kalau ada yang mau menyampaikan unek-unek, kita terima. Kita beternak juga enggak mau asal-asalan. Kebersihan tetap kita jaga dengan baik,” kata peternak ribuan ekor ayam ini.

Seng Guan mengaku, selain sudah beroperasi selama 37 tahun, ternak ayam yang dikelolanya juga menyerap sekitar 50 persen tenaga kerja dari warga sekitar.

“Ada 50 persen warga di sini yang kita pekerjakan. Kalau untuk berbuat, kita juga sudah berbuat untuk warga. Misalkan lebaran, kita juga ada ngasih untuk warga,” tuturnya sembari mengaku heran kenapa hal ini bisa terjadi.

Kondisi yang dialami Seng Guan menarik perhatian Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman. Di dampingi Presidium Forda UKM Sumut, Lie Ho Peng, Sri mendatangi lokasi usaha milik Seng Guan.

Tiba di lokasi, Sri pun turut melakukan pengecekan di seluruh kandang yang ditempati 30.000 ekor ayam. Masing-masing kandang tak luput dari pengecekan, baik itu soal bau yang ditimbulkan, hingga kebersihannya juga.

“Kita sudah cek barusan ini, ada bau tapi sedikit. Tidaklah seperti yang dihebohkan,” ungkap Sri kepada wartawan.

Sripun merekomendasikan agar ternak ayam yang dikelola Seng Guan bersama keluarga tidak ditutup. Apalagi Seng Guan juga mempekerjakan warga setempat.

“Jangan ditutup. Sebagai tempat usaha, pemilik juga menampung banyak tenaga kerja, termasuk mempekerjakan warga setempat. Jadi tak elok pula ini ditutup,” tegasnya.

Di sisi lain, Sri juga menjelaskan, ternak ayam yang dikelola Seng Guan juga telah memiliki izin yang lengkap, termasuk menjalani usahanya sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).

“Misalnya harus bersih, tidak mengganggu lingkungan. Di mana pun kalau namanya ternak apa lagi itu hewan, ya itu pasti ada aroma-aroma yang bau, tapi tidaklah menyengat baunya. Sama halnya juga dengan makanan ternak, itu kan juga bau, tapi tidaklah sampai ditutup. Ini kan bukan solusi namanya,” ungkap Sri menganalogikan.

Sebelum meninggalkan lokasi, Sri berpesan agar Seng Guan untuk tetap menjaga SOP yang ada dan juga selalu menjaga kebersihan.

“Saya pikir mungkin sedikit pembenahan ajalah ya. Saya lihat juga enggak ada masalah yang fatal di sini, karena kita sudah melihat langsung. Kalau ternak ya begini kondisinya, saya pikir kalau memang mengganggu kesehatan, ya mungkin orang yang tinggal di sini sudah duluan kena penyakit, kan ini bukan setahun dua tahun usahanya, sudah puluhan tahun malah,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Beringin Wahyu Rismiana mengungkapkan, kemarin pihaknya sudah memanggil yang bersangkutan. Sebelum dia menjabat, pemilik dan warga sudah 2 kali melakukan pertemuan.

“Mereka sudah mengadu ke Bupati dan ke DPRD. Kita pada prinsipnya akan melakukan musyawarah dahulu. Kita akan panggil terpisah dulu bang. ‘Apa mau kelen’. Kemarin pemilik ternak sudah kita panggil,” ucapnya.

Mantan Camat Biru-biru ini juga mengamini soal penutupan ternak ayam milik Seng Guan juga bukan merupakan solusi.

“Makanya kita kembalikan cari solusi yang terbaik. Makanya kalau abang senang sama senang, gimana? Ya cocok, tapi sayapun pastikan juga, kalau orang itu, istilahnya terlalu luar biasa tuntutannya, ya gak betul juga. Tetap kita fasilitasi, yang penting tuntutan masyarakat jangan berlebihan juga,” tegasnya.

Dia juga mengaku sudah memanggil pemilik ternak dan nantinya segera memanggil warga. “Kalau trantib sudah turun (ke lokasi ternak). Gak mungkin saya lagsung turun ke situ kan. Sebetulnya bahasa situ kan enggak ada bau, gitu gak ada,” ungkapnya.

Wahyu juga mengaku, ternak ayam milik Seng Guan tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan ternak lain seperti ayam potong.

“Itu enggak seberapa jika dibandingkan dengan ayam potong. Kalau ayam potong, udah bau, kalau dibongkar, lalat lagi kan. Cuma pada prinsipnya, kita cari solusi terbaik. Saya tidak ada memihak siapa-siapa, yang penting sama sama senang. Kalau keduanya sama sama senang, kenapa satu harus terdzolimi dan satu yang apa gitu. Solusi terbaiklah nanti yang kita berikan,” tandasnya. (ht/metro24.co)