Para terdakwa di persidangan.

PN MEDAN-M24

Enam terdakwa kasus penyekapan di Hotel Polonia dan Hotel Kristal terhadap tiga saksi korban, yakni Masri, Sakruddin dan Nzulafri menjalani persidangan, Jumat (15/3). Sebagaimana dalam pemeriksaan terdakwa, korban disekap dan dianiaya lantaran investasi Bitcoin.

Sidang yang berlangsung di ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri (PN) Medan, menghadirkan enam terdakwa. Diantaranya, Parlaungan Simarmata (38), Parulian Manullang alias Bangun (42), Riko Manullang (33), Tua Pandapotan Panggabean (34), Budi Hartono (46) dan Dedi Harianto Marbun (berkas terpisah).

Dua dari enam terdakwa itu merupakan oknum penegak hukum. Keduanya adalah Parlaungan Simarmata diketahui adalah merupakan oknum polisi. Kemudian Dedi Harianto Marbun yang berprofesi sebagai pengacara.

Loading...

Di hadapan Ketua Majelis Hakim, Tengku Oyong, keenam terdakwa mengakui kesalahan telah melakukan penyekapan terhadap korban.

“Benar yang mulia, kami salah telah melakukan penyekapan,” jawab keenam terdakwa kompak secara bergantian.

Usai mendengarkan keterangan keenam terdakwa, majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan mendatang, dengan agenda tuntutan.

Dalam dakwaan terpisah, lima terdakwa ditangani oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nelson Victor. Sedangkan seorang terdakwa, yakni Dedi Harianto Marbun, ditangani JPU Randi Tambunan.

Diketahui, penculikan berawal saat ketiga korban menumpangi mobil dari Hotel Grand Inna menuju Jln Ringroad, Medan. Saat melintas di Jln Gatot Subroto, para terdakwa yang mengendarai kreta dan mobil menghentikan kendaraan para korban.

Seorang pelaku menyuruh korban menjumpai otak pelaku M Nasir di Hotel Polonia. Di sana, para korban dianiaya oleh pelaku Nasir. Tak hanya di sana, ketiganya kemudian dibawa ke hotel Kristal Jln Padang Bulan. Di hotel ini, para korban dipisah lalu korban atas nama Masri dianiaya dan ditelanjangi karena dianggap bos bisnis penipuan.

Aksi penculikan bermotif investasi bitcoin. M Nasir merasa kesal, sebab uang Rp900 juta yang sudah diinvestasikan dalam bentuk bitcoin itu tidak menghasilkan apa-apa. Disebutkan, pelaku sudah banyak investasi uang hampir Rp900 juta.

Akibat perbuatannya, keenam terdakwa dikenakan Pasal 333 ayat 1 KUHP dan atau pasal 170 KUHP dan atau 351 KUHP juncto 55. (ansah)