Plt Walikota Medan, Akhyar Nasution. (foto: ist/metro24.co)

MEDAN, Metro24.co – Guru kader Utama PDIP Sumut, Ir H Akhyar Nasution MSi, mengakui telah menyerahkan tiga nama bakal calon (Balon) Wakil Walikota Medan ke DPP PDIP di Jakarta.

“Ketiga nama calon wakil walikota masing-masing memiliki karakter kepemimpinan, pengalaman di birokrasi, memiliki keilmuan dan sosoknya religius,” kata Akhyar dalam keterangan yang diterima metro24.co, Jumat (13/3/2020).

Akhyar menceritakan, kehadirannya ke DPP PDIP pada Kamis (12/03/2020) merupakan hasil penjaringan internal PDIP di Sumut untuk pencalonannya sebagai Walikota periode 2021-2024.

Dalam pertemuannya dengan DPP PDIP, sebagai kader utama dimintai syarat untuk memberikan tiga nama calon wakil walikota dari latar belakang yang bebas.

“Karena saya kader utama PDIP, DPP PDIP membebaskan saya memilih calon wakil di luar kader PDIP. Saya sudah serahkan tiga nama, ketiga nama itu di luar PDIP, dan saya yakini calon wakil walikota yang saya serahkan itu bisa bekerjasama untuk mewujudkan pembangunan dan membikin Medan tambah cantik,” ucapnya.

Siapa nama ketiga calon wakilnya itu, Akhyar tak bersedia menyebutkan namanya. Hanya kriteria ketiga sosoknya yang disebutkannya. Akhyar membocorkan sedikit. Dia mengatakan, ketiga calonnya tersebut masing-masing seorang ulama, pernah di birokrasi dan akademisi juga.

Kemudian, ada politisi yang aktif sebagai akademisi, berjiwa muda dan religius. Lalu, sosok lainnya seorang birokrat yang berpengalaman, akademisi, dan berkarakter sebagai pemimpin.

“Tiga nama itu sudah saya kenal sejak lama, dan saya sudah menyaringnya benar-benar. Nama-namanya ada di DPP PDIP, tiga sosok itu merupakan warga Medan dan cukup dikenal. Karena tiga nama itu, masing-masing berpengalaman di birokrasi, dikenali oleh politisi, memiliki keilmuan yang baik dan religius,” ucap Akhyar yang merupakan lulusan Sekolah Guru Kader Utama PDIP Angkatan IV pada tahun 2012 di Kulonprogo, DI Yogjakarta.

Dia menyebutkan, jika namanya diputuskan sebagai Calon Walikota Medan dari PDIP, maka tiga nama itu diputuskan menjadi satu nama. Selanjutnya, akan dibawa ke mitra koalisi partai lainnya disatukan menjadi pasangan calon walikota dan calon wakil walikota.

Begitupun, Akhyar tak menutup diri dengan partai lainnya untuk mengajak partai lain menjadi mitra koalisi. Adapun partai yang sudah intens berkomunikasi secara politik yakni PAN, PKS, Partai Demokrat, dan PPP.

Sedangkan ke partai lainnya, Akhyar sudah merapatkan diri. Dia menyampaikan, untuk menjadi kader utama PDIP seperti yang dimilikinya memiliki perjalanan yang panjang, bahkan harus memiliki kemampuan, pengetahuan berorganisasi serta pengalaman di partai.

Karena sulitnya mendapatkan guru kader utama, di Sumut dari ratusan ribu kader PDIP tercatat hanya 30 orang yang memiliki sertifikat guru kader utama.
Akhyar menceritakan pengalamannya di PDIP, saat itu baru mau menjadi pemilih pemula, saat itulah dirinya mendaftarkan diri menjadi kader PDI, keluarlah kartu anggota.

Kemudian, dijadikan kader karena masuk kepengurusan di tahun 1994, dan seterusnya menjadi pengurus hingga anggota DPRD Medan tahun 1999-2004.
“Jadi saya di PDIP itu sudah guru kader utama dan berkarier aktif di kepengurusan dari tingkat ranting, anak cabang, hingga DPD PDIP Sumut. Saya juga mendapatkan warisan darah PDI dari kakek dan ayah saya,” imbuhnya.

“Jadi saya sangat paham yang akan dibuat partainya, yakni mengutamakan kadernya.
Tak hanya itu, Akhyar menyatakan saat ini keinginan dan doa para kader serta anggota PDIP di kota Medan agar partainya sebagai Rumah Besar Wong Cilik memberikan tugas kepartaian kepada para kader-kader PDIP,” harapnya.

“Saya pribadi memohon doa restu dari rekan-rekan kader PDIP atas seluruh perjalanan yang dilalui ini. Semoga seluruh kader-kader kita tambah semangat dalam perjuangan,” ucapnya berdoa. (ht/metro24.co)

Editor: H Talib