Gubsu Edy Rahmayadi. (foto: istimewa)

MEDAN, Metro24.Co – Festival Danau Toba (FDT), agenda tahunan yang menjadi unggulan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tidak dilaksanakan tahun ini. Pasalnya, pelaksanaan FDT 2019 pada 9 sampai 12 Desember 2019 dinilai tak sesuai ekspektasi dan banyak yang harus dievalusi.

Soal evaluasi, sebelum FDT 2019 berlangsung, sudah diwanti-wanti Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut Ria Novida Telaumbanua saat dia melaporkan persiapan FTD ke-7 di ruang kerjanya. Sejak Kamis (9/1/2020), Gubernur Sumut Edy Rahmayadi dibombardir kritik dan tudingan simpang-siur soal FDT 2020.

Ditemui usai shalat zuhur di kantornya, dia menarik nafas ketika dimintai komentar. Baca juga: Gubernur Edy Pastikan Tak Ada Festival Danau Toba 2020, Ini Alasannya Target 1 juta wisatawan tak tercapai Katanya, Danau Toba perlu kegiatan yang bisa membuat wisatawan datang, sebab dari pemerintah pusat meminta (menargetkan) satu juta orang yang datang ke sana.

“Saat ini kita belum bisa sampai segitu, separuhnya pun tidak… Untuk itu mari kita kaji bagaimana membuat kegiatan di situ tidak monoton seperti sekarang. Danau Toba ini dibikin pesta Danau Toba. Tari-tarian di situ, apa.. Satu hari, dua hari, habis itu pulang, ubah lagi…” kata Edy, Senin (13/1/2020).

“Mari kita bikin kreativitas di situ. Ada yang menceritakan tentang adat-istiadat orang Batak. Mulai dari di-ulos-in sampai dia meninggal nanti juga di ulos-in. Ini diceritakan, bagaimana menceritakan itu…” “Kemudian, kegiatan event-event internasional ada triathlon mungkin di situ, lari, berenang, sepeda. Udah dibikin Pak Wagub kemarin rally, bikin lagi, apa lagi, apa lagi begitu…” sambungnya.

“Jangan dibilang Danau Toba ditiadakan, bukan… Apa yang harus kita bikin, mungkin konferensi wartawan kita bikin di sana sehingga wartawan se-Indonesia melihat Danau Toba. Jadi jangan asal judul aja begitu…” “Kemarin-kan saya yang buka itu pesta Danau Toba, tapi kan juga dalam hati, kapan biar mau orang datang, kalian aja tak mau datang, apalagi orang lain…” kata Edy.

Festival Danau Toba tetap dilaksanakan, tapi… Sekali lagi ditanya apakah FDT 2020 akan tetap dilaksanakan, Edy menjawab tetap dilaksanakan bahkan lebih dari yang kemarin, hanya namanya diubah. “Apa namanya… Baik per-item, mungkin sky Danau Toba atau lomba mancing sehingga yang ada keramba-keramba itu dipancing semua nanti,” ucap dia.

Disebut bahwa beberapa bupati di kawasan Danau Toba seperti samosir dan Taput menyayangkan jika FDT ditiadakan karena sudah menjadi brand yang membuat orang datang melihat danau. “Siapa yang meniadakan? Inilah wartawan ini. Bentuknya…” tukasnya.

Ditimpali kalau perubahan nama FDT-pun disayangkan oleh bupati-bupati sekawasan Danau Toba karena sudah menjadi ikon pariwisata. “Kalau di-brand juga tidak ada yang datang, hanya bupati Simalungun dan wali kota Siantar yang datang kemarin. Jangan asal ngomong ajalah, nanti kalian ribut lagi… Sudah saya rapatkan semua (bupati-bupati sekawasan Danau Toba), saya bilang mari kita bentuk yang membuat orang-orang itu datang…” katanya sambil berlalu.

Pesta atau festival? Sewaktu membuka FDT 2019 di Open Stage Parapat, Kabupaten Simalungun, Edy dalam sambutannya beberapa kali salah menyebut Festival Danau Toba dengan Pesta Danau Toba. Hal yang sama juga dilakukan beberapa pejabat, terbanyak salah sebut dan salah arti dilakukan pengunjung dan warga setempat.

“Yang datang ke mari meramaikan dan mengikut-sertakan pesta, pesta kita, dalam Festival Danau Toba. Ini ada yang orang suka rancu, kapan pesta kapan festival. Kalau sudah festival, ada pesta di dalamnya. Tapi kalau sudah pesta, belum tentu festival. Inilah festival, kegiatan pesta besar yang bersyukur kepada Tuhan, pesta rakyat dengan gegap gempita, dengan suka cita, dengan bergembira, itulah namanya festival,” kata Edy waktu itu.

Gubernur Edy lalu mengajak semua orang bersyukur atas keindahan alam yang di seluruh dunia hanya ada di Sumut, itulah Danau Toba. Menurutnya, ada lima destinasi pariwisata prioritas di Indonesia, dari ke limanya, prioritas nomor satu yang super-super priority adalah danau terbesar di Asia Tenggara ini.
Banggalah rakyat Sumatera Utara, seru dia. Baca juga: 3 Hari di Sumut, Ini Catatan Penting dari Jokowi untuk Danau Toba yang Berkelas Evaluasi penyelenggaraan FDT “Untuk itu jangan lagi hal-hal yang lain, saya mau nanti ini dievaluasi. Saya minta lakukan dan menjadikan benar-benar festival. Kita undang, seluruh dunia datang melakukan Festival Danau Toba,” ucapnya.

“Mari sama-sama kita jaga sehingga kita tidak malu berteriak horas..! Kalau kita tidak bisa menjaganya, percuma ada Gordang Sembilan, ada tor-tor yang begitu bagus. Kita masih kalah dengan Bali…” kata Edy.
“Saya berharap evaluasi yang benar, yang namanya festival itu, penuh tempat ini. Pilih tempat yang terbaik dan kita lakukan Festival Danau Toba yang benar. Jangan pernah membuat malu, mengecilkan nama Danau Toba,” katanya.

“Yang dengar pada sore ini, saya selaku gubernur Sumatera Utara, jangan sekali-sekali kita sembunyi di nama besar nama Danau Toba. Mari kita besarkan Danau Toba sesuai besarnya nama Danau Toba dari anugerah Tuhan yang Maha Esa.”

“Jaga dan pastikan bahwa Danau Toba adalah leluhur, pemberian dari Tuhan yang Maha Esa,” tegasnya. Baca juga: Jokowi Siap Kucurkan APBN Rp 3,5 Triiun untuk Pengembangan Danau Toba Tidak menarik Iwan, pengunjung FDT 2019 asal Kota Medan yang kebetulan sedang berada di Parapat karena urusan kerja. Ia menyaksikan sendiri sepinya FDT 2019.

Ia mengatakan, tidak ada yang menarik dengan festival yang sedang berlangsung. Dirinya melihat Parapat seperti tidak ada menggelar acara apapun. Cuma sedikit keramaian, itupun kebanyakan pejabat yang datang. “Turis sama orang kita sepi, ada yang tak tau pas ditanya festival ini,” kata warga Jalan Gaharu Kota Medan ini kepada Kompas.com.

Editor : S Tandang