Korban duduk di kursi roda. (anggun/metro24.co)

MEDAN, Metro24.co – Sejak berumur 7 tahun, gadis di bawah umur, WL (14), jadi korban ‘keganasan’ kepala salah satu panti asuhan di Medan, ENNS. Gadis berkulit putih tersebut diper-kosa dan jadi pelampiasan sek-sual pelaku.

Saat ini kasusnya telah ditangani Subdit IV Renakta Polda Sumut. Pelakunya juga telah diproses hukum. Kasus ini menjadi perhatian serius Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), LBH APIK Medan, dan LSM lainnya yang mendampingi korban.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Komalasari mengatakan, akibat perbuatan terkutuk pelaku yang seharusnya menjadi pelindung, korban hingga saat ini mengalami trauma yang sangat mendalam.

“Perbuatan pelaku sangat keji. Pasalnya dari umur 7 tahun sampai umur 10 tahun pelaku melakukan pemer-kosaan. Setelah korban berumur 10 tahun dan sudah mens-trubasi, dia menggantikan caranya dengan menggunakan jari (tangan) yang dimasukan ke alat kela-min korban sampai umur 14 tahun,” ujarnya, Rabu (15/7/2020).

Atas perbuatannya, Wakil Ketua LPAI berharap agar pelaku dihukum dengan seberat-beratnya. “Kalau bisa dihukum kebiri, karena ini perbuatan yang sangat keji,” pintanya.

Sementara Direktir LBH APIK, Cut Betty, juga berpendapat dengan LPAI. Katanya, perbuatan pelaku sangat tidak manusiawi karena korban telah diper-kosa sejak usia 7 tahun. “Perko-saan itu dilakukan hampir setiap hari yang membuat korban mengalami trauma berat,” ucapnya.

Cut Betty juga mengatakan, awalnya kasus ini ditangai oleh LSM yang berada di Kota Medan dan merujuk ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak. “Dinas kemudian memberikan kuasa kepada saya. Allhamdulilah, kasus ini akhirnya dapat diselesaikan dalam waktu dua minggu, dan tersangka langsung ditahan,” pungkasnya.

Diketahui, kasus pemerkosaan ini terbongkar ketika korban melarikan diri dari panti asuhan, tempatnya tinggal. Setelah itu korban datang ke Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Medan bersama Kepala Lingkungan (Kepling) setempat pada tanggal 9 Desember 2019.

Agar kasus pemer-kosaan ini dapat ditindak tegas, maka tim dari SOS Children Village Medan, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, DP3APM Kota Medan, Sakti Peksos Kemensos, PESADA dan LBH APIK ikut serta dalam perkara ini. (anggun/metro24.co)