Jenazah Golfrid Siregar di rumah duka

SIMALUNGUN-M24

Sebelum meninggal dunia, Golfrid Siregar menangani sejumlah kasus besar. Diantaranya Pembalakan Liar di Karo dan PLTA Batangtoru.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut, Dana Prima Tarigan mengakui jika Golfrid Siregar tengah menangani sejumlah kasus besar.

“Begini, beliau itu adalah kuasa hukum di Walhi. Jadi semua kasus yang ditangani Walhi dia pasti tahu dan pasti diminta kajian hukumnya. Dari awal kasus, apapun itu, pasti ditangani dengan menggunakan jasa beliau karena beliau orang hukum,” terang Tarigan saat ditemui di rumah duka, Opung Angriani boru Siregar, nenek dari Golfrid Siregar di Huta Gereja Nagori Palianopat, Kec Pangaribuan, Kab Simalungun, Selasa (8/10) mengatakan.

Loading...

Adapun sejumlah kasus yang tengah ditangani, lanjut Dana, yakni pembalakan liar di Bah Mardinding atau Lau Balang, Karo, lalu amdal di Siantar, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru di Tapanuli Selatan (Tapsel). Golfrid disebut pernah melaporkan dugaan pemalsuan amdal untuk PLTA Batangtoru ke Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut). Namun Polda Sumut mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) atas laporan tersebut.

“Golfrid juga yang menjadi koordinator untuk melaporkan kasus ini ke Propam Mabes Polri terkait SP3 tersebut. Melaporkan pihak-pihak penyidik di Polda,” beber Dana pada metro 24.

Karena itu, setelah keluarga korban tenang, pihaknya akan memperdalam kasus tersebut. Termasuk pertemuan-pertemuan yang dilakukan korban. Termasuk klien selain JNE.

Dana sendiri meragukan keterangan kepolisian yang menyebut Golfrid Siregar tewas karena kecelakaan lalulintas. “Seperti yang sudah pernah kita sampaikan juga bahwa kita melihat luka-luka yang kemarin itu sangat janggal dikatakan kecelakaan. Karena kita melihat tubuhnya tidak banyak yang lecet. Ini ada teman Roy juga pada saat itu mendampingi di rumah sakit. Teman-teman juga tidak melihat sepedamotornya seperti lecet atau seperti menabrak sesuatu,” ujarnya.

Kejanggalan lainnya, lanjut Dana, sebelum membuat laporan, pihaknya tidak menemukan lokasi kecelakaan korban. Dana mendorong kepolisian untuk membuka kasus ini secara transparan. “Kita berharap Peradi dan publik bisa dilibatkan tahap demi tahap. Agar kita bisa lihat prosesnya ini apa penyebab sebenarnya,” pungkas Dana.

Harapan serupa disampaikan Abang kandung korban, Efendy Siregar. Sampai saat ini, pihaknya belum menerima informasi terkait hasil otopsi dari pihak kepolisian. “Belum, belum. Tim advokasi yang meminta otopsi. Harapannya segeralah diungkap,” tutur Efendy.

“Kalau ada niat, Polda pasti bisa terbongkar dengan cepat. Karena ada yang bawa adek kita ini ke rumah sakit, kan ada CCTV. Memang identitas yang mengantar ini tidak ada. Kan becak bermotor. Saya rasa itu aja harapan kami dari keluarga,” pungkasnya.

Terpisah, Kabid Humas Polda Sumut yang dikonfirmasi melalui Kasubbid Penmas MP Nainggolan mengatakan, pihaknya tengah membentuk tim untuk mengungkap kematian Koordinator Kuasa Hukum Walhi Sumut, Golfrid Siregar tersebut. Tim tersebut, gabungan kepolisian mulai dari Polda hingga Polsek, yang menjadi TKP awal ditemukannya korban.

“Jadi sejauh ini polisi sudah bekerja dan terus berusaha mengungkapnya. Begitu kejadian, polisi melacak pemilik sepeda motor yang dipakai korban (keluarga Golfrid), dari situlah polisi tahu identitas korban. Karena sebelumnya tidak ada identitas, dan tidak ada yang mengetahui kejadian yang dialami korban. Kita juga sedang berupaya mencari tahu siapa yang mengantarkan korban ini ke rumah sakit. Sayangnya pihak rumah sakit tempat sebelumnya korban dikirim (Rumah Sakit Mitra Sejati), tidak mencatat identitas orang yang mengirim korban (Golfrid Siregar),” ungkap MP Nainggolan.

Terkait hasil otopsi terhadap jenazah korban yang dilakukan, Senin (7/10) malam, MP Nainggolan berjanji akan menyampaikan ke publik. “Sudah, kalau itu (hasil otopsi), itu wewenang penyidik,” tutup mantan Wakapolres Nisel itu.

Demikian halnya Pjs Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Eko Hartanto. Mereka terus berupaya untuk mencari penarik becak yang menemukan dan mengantar korban ke rumah sakit. “Masih kita cari penarik becaknya. Kita imbau kepada abang becak tersebut untuk bantu kita dengan datang ke kantor dan berikan informasi,” ujar Eko Hartanto, Selasa (8/10).

Selain penarik becak, ia juga mengimbau kepada pihak yang melihat kejadian saat korban terjatuh atau lainnya untuk berikan informasi ke polisi. Hingga saat ini, pihaknya telah memintai keterangan istri korban dan satpam rumah sakit. Penyelidikan pun terus dilakukan. “Insya Allah hari ini ada bertambah saksi yang akan kita periksa. Mohon doanyanya,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Golfrid yang konsen mengadvokasi kasus-kasus lingkungan ini sebelumnya ditemukan terkapar tak sadarkan diri dengan kepala luka-luka di bawah Fly Over Simpang Pos/Jln Jamin Ginting, Kamis (3/10) sekitar pukul 01.00 WIB. Setelah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dan mendapat perawatan selama 3 hari, korban akhirnya meninggal dunia, Minggu (6/10).

Golfrid Siregar diketahui meninggalkan seorang anak dan istri bernama Resmi Barimbing. (adi/ahmad/irwan)