Jakarta, METRO24- Satpas 1221 Polresta Depok, menyangkut pelayanan SIM bukan main-main. Komitmen tegakkan Protokol kesehatan Covid-19 dijalankan. Hal itu sejalan dengan antusias masyarakat untuk memperpanjang masa berlaku SIM mengantre.

Olehkarenanya, ketegasan memastikan protokol kesehatan diterapkan secara ketat pada layanan pengurusan serta pembuatan surat izin mengemudi atau SIM di lingkungannya.

Dalam catatan’, Bukan kali ini saja, satuan penyelenggara Pelayanan SIM di Satpas 1221 Polresta Depok konstan memastikan protokol kesehatan diterapkan dengan ketat pada saat layanan pengurusan dan pembuatan surat izin mengemudi atau SIM di lingkungannya.

Bila pengurangan kapasitas layanan, hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya penumpukan atau antrean panjang. Pasalnya untuk menjaga standar-standar pelayanan prokes, agar aman dan lancar.

Secara umum, masyarakat merespon dengan positif, “Amann, pemohon merasa aman dan nyaman…,” kata SA, warga Depok, sambil menuju motornya. Sejalan dengan itu WW, saat ditemui Metro24. Mengatakan cukup lancar jaya. Aman, selorohnya sambil senyum.

Kembali perlu dicatat. Bilapun, ‘andaikan ada perlambatan’ hal ini karena kapasitas pelayanannya dikurangi, yang biasanya normal mungkin sehari 1.000 hanya bisa dilayani 500. Dilapangan juga terlihat petugas yang melayani sudah siap.

Aspek sarpras terlihat baik, kursi tertata bagus, pakai jarak, termasuk unit pelayanannya sudah siaga. Jadi, sebelum memasuki area layanan, para pendaftar antre untuk diperiksa suhu badan oleh petugas.

Setelah itu para pendaftar langsung bisa mengambil formulir pendaftaran dan menyerahkan dua foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP). Selain itu, pelayanan pembuatan SIM baru di kantor Satpas. Dan dipisah dengan pelayanan perpanjangan masa aktif SIM untuk mencegah terjadinya kerumunan.

Prokes
Pemohon SIM diwajibkan mencuci tangan, kemudian masuk ke bilik disinfektan dan mengukur suhu tubuh.

Apabila suhu tubuh di bawah 37,8 derajat celsius, diperbolehkan masuk. Sedangkan di area dalam diberi sekat antar masyarakat dan petugas. Saat menunggu antre pun sudah diterapkan aturan jaga jarak, baik itu tempat duduk maupun lokasi antrean saat berdiri.

Kemudian pada saat ujian teori, kapasitas juga sudah diubah jadi 50 persen agar tercipta jarak di antara pemohon SIM. Untuk pelaksanaan foto dan sidik jari, petugas menyiapkan cairan pembersih tangan, tisu dan penyekat.

Untuk uji praktek, sudah memakai sistem ‘e-drives’ sehingga tidak ada pertemuan antara penguji dan yang diuji. Kendaraan pun yang dipakai sudah dilakukan pembersihan dengan cairan disinfektan secara rutin tiap harinya minimal tiga kali.

Umumnya segala kesiapan sudah diantisipasi dan di’petakan’ untuk keamanan,kenyamanan serta keselamatan bersama dalam pengurusan SIM.(Ali)
◽Editor: arpani