SH alias Pak Tati

MEDAN-M24

Setelah diseret dan dimasukkan ke parit bekoan, bagian kepala keduanya dipukul kayu balok sepanjang satu meter. Wartawan dan mantan caleg itu tewas karena dendam.

Personel Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resort (Polres) Labuhanbatu bekerja sama dengan Reskrim Kepolisian Sektor (Polsek) Panai Hilir berhasil mengungkap kasus pembunuhan aktivis lingkungan hidup Maratua Parasian Siregar alias Sanjai dan Maraden Sianipar.

Kasubbid Penmas Bid Humas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan mengatakan, pembunuhan wartawan dan mantan calon legislatif (caleg) Partai Nasional Demokrat (NasDem) ini didasari dendam. “Untuk sementara, motifnya dendam soal lahan kebun sawit. Penyidik masih melakukan pendalaman. Kedua tersangka masih dalam pemeriksaan untuk pengembangan lebih lanjut,” ucap mantan Kapolres Nias Selatan ini kepada awak media, Selasa (5/11).

Loading...

Lanjut MP Nainggolan, kedua tersangka adalah Victor Situmorang alias Pak Revi (49) dan Sabar Hutapea alias Pak Tati (50), keduanya warga Dusun VI Sei Siali, Desa Wonosari Kec. Panai Hilir Kab. Labuhanbatu. Mereka ditangkap dari kediamannya masing-masing, Selasa (5/11) sekitar pukul 01:00 WIB.

Dalam pemeriksaan, keduanya mengakui telah membunuh korban. “Vicktor Situmorang alias Pak Revi dan Sabar Hutapea alias Pak Tati bersama-sama memukul kedua korban dengan kayu balok sepanjang satu meter lalu memasukkannya ke parit bekoan,” beber Nainggolan.

Kapolres Labuhanbatu, AKBP Agus Darojat melalui Kasat Reskrim, AKP Jama Kita Purba menambahkan, penangkapan kedua tersangka berawal temuan mayat kedua korban di dalam parit bekoan di belakang gudang perkebunan wawit KSU Amelia, Rabu (30/10) pukul 17:45 WIB.

Sebelumnya, pada Selasa (29/10) sekitar pukul 16.00 WIB, saksi Burhan Nasution datang ke Polsek Panai Hilir melaporkan kalau sepeda motornya jenis Honda Revo BK 5185 VAB, dibawa Maraden Sianipar, warga Jln Gajah Mada, Kel Binaraga, Kec Rantau Utara, Kab Labuhanbatu bersama Martua Parasian Siregar alias Sanjai, warga Jln Syahbandar Link I, Kel Sei Brombang, Kec Panai Hilir, Kab Labuhanbatu. Namun keduanya tak kunjung pulang.

“Alasan keduanya meminjam sepeda motor Burhan Nasution untuk melihat kebun sawitnya yang melalui perkebunan sawit KSU Amelia di Dusun VI Sei Siali, Desa Wonosari, Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhanbatu,” katanya.

Berdasarkan laporan tersebut, bersama petugas Polsek Panai Hilir, Burhan melakukan pencarian ke lokasi perkebunan sawit KSU Amalia. Di belakang gudang perkebunan, mereka menemukan jasad kedua korban di dalam parit bekoan. Ditemukan pula luka robek pada bagian kepala belakang, luka robek pada bagian leher, pipi kiri, siku kiri dan nyaris putus, luka robek pada bagian punggung. Mayat kedua korban kemudian dibawa ke rumah sakit untuk otopsi.

Petugas lalu melakukan penyelidikan. Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan keterangan para saksi mengarah pada Pak Revi dan Pak Tati yang ditangkap dari kediaman masing-masing. Dalam kegiatan penangkapan itu turut disita barang bukti berupa 1 unit sepeda motor Honda Revo 110 BK 5185 VAB warna hitam.

Kepada petugas, kedua tersangka mengaku menghabisi nyawa korban bersama empat rekannya. Mereka berinisial JS, S alias PR, M dan P. Keempatnya kini masuk daftar pencarian orang (DPO). Adapun Revi berperan menarik dan memasukkan mayat korban ke parit bekoan serta memukul kedua korban dengan menggunakan kayu bulat sepanjang satu meter.

Sedangkan Pak Tati memukul kedua korban dengan menggunakan kayu bulat dengan panjang satu meter dan menarik kemudian memasukkan mayat korban ke parit bekoan.

“Empat terduga pelaku lainnya yakni, JS, S alias PR, M dan P masih dalam pencarian petugas,” terang Jama Kita Purba.

Terhadap kedua tersangka dikenakan Pasal 340 subs 338 Jo 55, 56 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup. (ahmad/zainul)