(foto: Zero Hedge)

RUSIA, Metro24.co – Rusia memamerkan keunggulan rudal hipersonik Avangard. Mereka menyebut senjata pemusnah massal itu mengalahkan sistem persenjataan Amerika Serikat (AS).

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan, Avangard bisa menahan suhu 2.000 derajat Celsius. Pada Jumat (27/12/2019), Menteri Pertahanan Sergei Shoigu mengumumkan resimen pertama Avangard telah beroperasi.
Kepala pasukan misil strategis, Jenderal Sergei Karakaev, menuturkan bahwa rudal hipersonik itu ditempatkan di unit Region Orenburg di Ural.

Seperti dilansir The Guardian, Sabtu (28/12/2019), Putin memperkenalkan Avangard sebagai salah satu senjata terbaru Rusia dalam pidato kenegaraan pada 2018 lalu. Misil itu diklaim bisa bermanuver tajam saat mengarah ke target, dan membuat sistem pertahanan tak berguna.

Dia mengatakan, generasi terbaru rudal itu bisa menghantanm target mana pun di dalamnya, dan melewati sistem milik AS. Dia menjelaskan, Avangard bisa diluncurkan sebagai rudal balistik antar-benua (ICBM). Tetapi punya perbedaan spesifik. Berbeda dengan misil reguler yang jalurnya sudah ditentukan, Avangard bisa berbelok dalam kecepatan tinggi, membuatnya sulit dicegat.

Putin berujar, rudal itu dibuat dari material khusus terbaru yang bisa menahan suhu hingga 2.000 derajat Celsius. Selain itu, misil tersebut bisa membawa hulu ledak nuklir hingga dua megaton. “Dia menghantam target seperti meteor,” jelas Putin.

Putin sempat menyebut alasan Rusia menciptakan Avangard maupun senjata terbaru lainnya adalah untuk mengimbangi upaya AS dalam mengembangkan sistem pertahanan mereka.

Rusia sebelumnya mencemooh AS bahwa rudal pencegat yang mereka buat tidak dimaksudkan untuk menangkal senjata Rusia. Pekan ini, Putin berseloroh bahwa untuk pertama kalinya, Kremlin unggul di sektor persenjataan hipersonik, di mana negara lain mengejar mereka.

Pada Desember 2018, Avangard diluncurkan dari pangkalan Dombarovskiy, dan menghantam target di Kura sejauh 6.000 km jauhnya. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim, mereka sudah menunjukkan Avangard kepada tim inspektur yang berasal dari AS.

Washington sendiri sudah memulai proyek uji coba senjata hipersonik dengan Menteri Pertahanan Mark Esper berkata, butuh waktu beberapa tahun bagi AS agar sempurna. (*)

 

Editor: H Talib
Sumber: The Guardian via kompas.com