Akhyar saat melihat dokter hewas mengautopsi Neneng. (foto: ist/metro24.co)

MEDAN, Metro24.co – Plt Walikota Medan, Ir Akhyar Nasution MSi, berduka atas meninggalnya Si Neneng, Sabtu (25/1/2020). Orang nomor satu di Pemko Medan itu pun langsung bergegas menuju ke Medan Zoo. Siapa Si Neneng yang membuat Akhyar berduka?

Neneng adalah gajah betina penghuni Medan Zoo sejak 20 tahun lalu, saat usianya masih 35 tahun. Gajah Sumatera yang memiliki berat 3 ton tersebut mati di usia 55 tahun setelah sejak Selasa (21/1/2020) mengalami sakit.

(foto: ist/metro24.co)

Begitu tiba di gerbang Medan Zoo atau Kebun Binatang Medan (KBM), Jalan Bunga Rampai IV, Kelurahan Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan, Akhyar langsung berjalan kaki sejauh 1 Km, menuruni lembah, menuju tempat Si Neneng terbaring tak bernyawa.

Saat itu bangkai Si Neneng dikerumuni sejumlah dokter hewan dan staf Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut.
Sekitar 45 menit berdiskusi dengan sejumlah dokter hewan, akhirnya Akhyar Nasution buka suara tentang matinya gajah betina tersebut.

Akhyar menyampaikan, Pemerintah Kota (Pemko) Medan turut berduka atas matinya Neneng. Gajah betina tersebut jadi penghuni Medan Zoo sejak di Jalan Brigjen Katamso, sebelum pindah ke Jalangan Bunga Rampai IV.

Menurut Akhyar, sebelum mati Neneng mengalami sakit sejak Selasa (21/1/2020) pagi, diawali tidak mau makan, hingga Rabu (22/1/2020) dipantau oleh drh Sucitrawan. Akhirnya, pada hari Rabu mulai diambil tindakan dengan memberikan infus larusan glukosa dan Ringer lactat.

(foto: ist/metro24.co)

“Tindakan yang dilakukan ini sebagai observasi awal dari tim medis hewan di Medan Zoo, dan akhirnya setelah menghabis 57 botol infus, sekira pukul 10.30 pada Sabtu (25/1/2020), Nenang mati,” sebutnya didampingi drh Sucitrawan dan Dirut PD Pembangunan Putrama Al Khairi.

drh Sucitrawan menyampaikan, dugaan sementara matinya gajah dikarenakan usianya sudah tua, biasanya usia gajah mencapai 60 tahun. Tapi, untuk mengetahui lebih tegaknya penyebab kematian, tim medis bersama BKSDA sedang melakukan outopsi, kemudian membawa hasil aoutopsi untuk dicek di laboratorium.

Sucitrawan menerangkan riwayat Neneng gajah betina tersebut. Menurutnya, gajah betina ini ada di kebun binatang sudah cukup lama, lebih dari 20 tahun. Selanjutnya, saat pindah dari kebun binatang di Jalan Brigjen Katamso ke Simalingkar B ini, gajah ini masih terus sehat.

“Saya mulai melihat dan memantau perkembangannya sejak tahun 2008. Sejak itulah saya tak pernah melihat Neneng sakit parah, hanya diare biasa. Hari ini dia sudah mati, dan tim kami sedang mencari tahu penyebab kematiannya,” ujarnya.

Penguburan Pakai Alat Berat

Akhyar yang mengetahui adanya kesulitan pengelola Medan Zoo untuk menguburkan Neneng karena bobot dan ukurannya yang besar. Ia langsung menghubungi Plt Kadis Pekerjaan Umum (PU), Zulfansyah.

“Pak Kadis, tolong kirimkan alat berat yang mini untuk mengebumikan gajah, seterusnya koordinasi dengan PD Pembangunan di Medan Zoo ya, terimakasih ya,” pintanya ke Kadis PU.

“Silahkan tetapkan di mana ditanam (dikubur) supaya aromanya tak tercium di kawasan Medan Zoo,” kata Akhyar.  “Tempatnya di sekitar dekat tempat perawatan dan tenpat outopsi ini saja, sehingga tidak jauh untuk mengangkatnnya. Kemudian, di bawah ini juga sudah cukup secara tempatnya,” dijawab oleh drh Sucitrawan.

“Secara teknis sudah selesai, saya minta hasil lab dan outopsinya terus dilaporkan dan disampaikan juga ke BKSDA,” ucap Akhyar sembari berjalan dan menyapa tim medis yang sedang melakukan outopsi. (red/metro24.co)

Editor: H Talib