Pelaku.

LANGKAT-M24

Aksi sodomi yang dilakukan oleh pemilik pesantren di Kec Padang Tualang, Langkat, berlangsung mulai April 2018 hingga terbongkar kemarin. Dari penyidikan kepolisian, dua santri mengaku pernah disodomi pelaku. Perbuatan cabul dilakukan di rumah kosong di lingkungan pesantren.

Info diperoleh, Polres Langkat telah memanggil 14 santri yang diduga jadi korban pelecehan seksual pelaku DS. Dari ke-14 santri itu, petugas telah memeriksa enam orang. Dua di antaranya pun telah mengaku pernah disodomi oleh DS, yang juga tercatat sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Kedua korban sodomi itu masing-masing berinisial AL (17), warga Kec Binjai dan SA (14), warga Padang Tualang, Langkat. Sementara itu, santri lainnya mengaku pernah dilecehkan secara seksual oleh DS.

Loading...

Info dihimpun M24 di Mapolres Langkat Kamis (14/3). DS melakukan pencabulan terhadap para santri itu pada April 2018 sampai dengan Maret 2019.

Diungkapkan MFR alias A, dia jadi korban keganasan seksual DS pada Februari 2019. Sore itu dirinya sedang ke kamar mandi. Lalu dipanggil DS dan diminta ke rumah kosong. MFR menuruti permintaan tersebut.

Di rumah kosong itu, mulanya pelaku menanyai korban soal siapa saja santri yang merokok. Pertanyaan itu dijawab MFR. Setelah itu pelaku meraba kedua betis hingga ke paha korban. Saat itulah pelaku meminta korban membuka celana untuk melihat bulu kemaluan korban. Lepas itu pelaku melakukan pelecehan seksual terhadap korban dengan saling melakukan onani.

Selepas itu, pelaku menyuruh korban kembali. “Yaudah sana pigi, kalau mau mandi ya mandi. Tapi ini jangan bilang sama siapa-siapa ya, janji cuma kita berdua aja yang tau,” ucap pelaku sambil meninggalkan rumah kosong tersebut.

Sementara korban MRI alias R mengatakan, pelecehan seksual yang dialaminya pada Desember 2018. MRI ketika itu sedang tidur dibangunkan pelaku. Dia diminta pelaku menuju rumah kosong yang terletak di belakang pesantren. Korban mengikuti permintaan tersebut.
Setiba di rumah kosong, pelaku menanyakan siapa saja santri bermasalah di pesantren itu. Namun MRI menjawab tidak mengetahui hal tersebut.
Pelaku lalu memaksa korban menunjukkan kelaminnya. “Mana boleh kayak gitu tad,” kata korban.

“Udah gapapa, sini saya lihat dulu ada atau tidak penyakitnya,” kata pelaku sambil memaksa. Setelah itu pelaku memukul pundak kiri korban sebanyak 2 kali. Dengan terpaksa pelaku membuka sarungnya dan menurunkan celana yang dipakainya hingga ke paha. Pelaku lalu kembali melakukan pelecehan seksual kepada korban.
Setelah birahinya terpuaskan, pelaku menyuruh korban mandi. “Tapi ini jangan bilang sama siapa-siapa ya, janji cuma kita berdua aja yang tau,” ungkap pelaku ketika itu.
Perlakuan serupa juga dialami AFD alias A pada Januari 2019 sekira pukul 22.30 WIB.

Ketika itu DS masuk ke kamar korban dan memintanya ke rumah kosong dan masuk dari pintu belakang. Korban pergi ke rumah kosong tersebut. Setelah tiba di rumah kosong, pelaku meminta korban menceritakan siapa saja santri yang sering begadang dan merokok di pesantren.
Karena pelaku mengetahui korban memiliki penyakit kulit, pelaku menanyakan di bagian mana korban mengalami gatal-gatal. Korban menyebut jika gatal-gatal dialaminya di bagian selangkangan. Saat itulah pelaku meminta korban membuka celana dengan alasan ingin melihat gatal-gatal tersebut.

Korban membuka celana. Pelaku lalu menggerayangi kemaluan korban. “Apanya yang ustad buat ini, turunlah harga diri saya kalau ustad giniin,” protes korban kala itu. Karena diprotes pelaku menyuruh korban untuk meninggalkan rumah kosong. “Yaudah pigilah, tapi jangan bilang siapa-siapa ya. Cuma kita dua yang boleh tau,” ujar pelaku. Korban beranjak dari rumah tersebut.
Kapolres Langkat AKBP Doddi Hermawan dionfirmasi Kamis (14/3) mengakui jika DS menyerahkan diri ke Polres Langkat Selasa (12/3) sekira pukul 00.20 WIB.
Dari hasil pemanggilan terhadap 14 orang diduga korban pencabulan, sudah dilakukan pemeriksaan enam orang. “Dua di antaranya mengakui jadi korban pencabulan sodomi yang dilakukan pelaku. Kami masih melakukan penyelidikan dan pelaku akan terjerat UU perlindungan anak,” ujarnya. (rudi)