Akhyar Nasution (kiri) dan Bobby Nasution (kanan). (foto: istimewa)

JAKARTA, Metro24.co – Persaingan dua kandidat Walikota Medan, Akhyar Nasution dan Bobby Nasution, untuk meraih dukungan dari DPP PDIP mulai menunjukan kejelasan.

Pada pertemuan tertutup di Jakarta Selasa (10/3/2020), keduanya dihadirkan di depan pengurus DPP PDIP atas perintah dari Ketua umum Megawati. Akhyar dan Bobby diberi persyaratan khusus untuk bisa mendapatkan dukungan dari partai tersebut.

Kepada Bobby, Sekjen PDIP Hasto Kristiyato, meminta ia untuk memilih dua kandidat calon wakil yang harus merupakan kader PDIP Sumut. Bobby harus bisa menyerahkan nama itu sampai pekan depan. Dua nama itu tidak boleh dari partai lain. Jika tidak, PDIP sama sekali tidak akan mendukungnya maju pada Pilkada Kota Medan September 2020 mendatang.

Sementara kepada Akhyar, Hasto meminta agar segera menyerahkan tiga nama yang menjadi alternatif sebagai calon wakilnya. Ketiga nama itu bisa dari partai lain, bisa dari kalangan birokrasi, dan bisa pula dari kalangan professional. Persyarayan untuk Akhyar ini terkesan sangat mudah, sebab bagaimanapun juga, Akhyar pasti akan melakukan langkah itu.

Lain halnya dengan Bobby, persyaratan mencari dua bakal calon wakil pendampingnya yang wajib dari kader PDIP merupakan syarat yang amat sulit. Alasannya, karena semua pengurus PDIP Sumut sudah bulat untuk mendukung Akhyar maju sebagai calon Walikota dari partai mereka.

“Kalau untuk suara DPD PDIP Sumut, semua bulat untuk Akhyar. Sama sekali tidak ada perbedaan pendapat dari internal kami. Hanya saja, keputusan memang ada di tangan DPP PDIP. Kita tetap menghormati aturan main itu,” kata Ketua DPD PDIP Sumut, Japorman Saragih.

Kuatnya dukungan DPD PDI Sumut untuk Akhyar, tak pelak lagi, pasti membuat Bobby kesulitan memenuhinya. Lagi pula, kader PDI Sumut yang elektabilitasnya paling tinggi di Medan hanyalah Akhyar. Sulit baginya untuk mencari kader lain yang layak digandeng sebagai wakil.

Di samping itu, sudah menjadi rahasia umum bahwa Bobby Nasution telah mendapatkan dukungan dari sejumlah partai lain di Medan. Partai Nasdem telah lebih awal memberikan dukungan kepadanya, sementara Partai Golkar dan Gerindra sudah menunjukkan sinyal kuat untuk berpihak kepada Bobby.

Kalau DPP PDI memberi persyaratan untuk memilih kader dari partai berlambang banteng itu, tentu saja berpotensi merusak koalisi yang telah dibangun pihak Bobby.

“Jadi sebenarnya persyaratan yang diberikan DPP PDIP kepada Bobby adalah bentuk penolakan halus kepada menantu Presiden itu. Bobby seperti tidak ada harapan lagi untuk bisa mendapat dukungan dari kubu Megawati,” tegas Ahmad Rizal, akademisi yang saat ini sedang melakuan study tentang Pilkada Medan.

Lain halnya dengan Akhyar, persyaratan yang diberikan kepadanya sangatlah normatif. “Tampak sekali kalau DPP PDP berpihak kepada Akhyar. Sepertinya keinginan Akhyar mendapat dukungan partainya sudah semakin pasti,” tambah Ahmad Rizal.

Akhyar Nasution adalah kader murni dari PDIP yang telah bergabung dengan partai itu sejak mahasiswa. Orang tuanya almarhum Anwar Nasution merupakan pendukung ajaran Marhaens yang dikembangkan Soekarno. Bahkan saat berlangsung reformasi tahun 1998, Anwar adalah sosok yang paling berani menyuarakan dukungan bagi Megawati. Sementara anaknya Akhyar, sejak mahasiswa telah larut dalam kegiatan PDIP melalui organisasi GMNI.

Akhyar memiliki pengalaman lebih luas dalam dunia politik di Kota Medan. Ia pernah duduk sebagai anggota DPRD Medan periode 2000-2004, pernah menjabat sebagai staf ahli Fraksi PDIP di DPRD Sumut, dan ia aktif sebagai pengurus teras DPD PDIP Sumut sampai saat ini.

Pada Pilkada Medan 2015 lalu, Akhyar terpilih sebagai Wakil Walikota Medan mendampingi Dzulmi Eldin. Sejak terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan Eldin Oktober 2019 lalu, Akhyar dipercaya menjabat sebagai Plt Walikota Medan. Pada Pemilu Presiden 2019, sebagai politisi PDIP, Akhyar masuk dalam barisan pendukung utama untuk memenangkan Jokowi-Amien di Kota Medan.

Pada Pilkada Medan 2020 ini, Bobby yang merupakan menantu Presiden Jokowi bertekat maju sebagai kandidat Walikota dari PDIP dengan ‘menyingkirkan’ Akhyar Nasution, sosok yang telah berjasa mendukung mertuanya. Pertemuan di DPP PDIP menjadi sinyal bahwa upaya Bobby ‘menyingkirkan’ Akhyar tidak akan berhasil. (am/metro24.co)

Editor: H Talib