Pasutri tersangka pengoplos daging sapi dan babi. (foto: detik.com)

JABAR, Metro24.co – Pasangan suami istri (pasutri) penjual daging sapi dicampur daging babi ditangkap polisi. Selain keduanya, polisi juga menangkap dua orang lainnya. Komplotan ini menjual daging sapi oplosan daging babi ini beroperasi di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jabar.

Kapolres Cimahi, AKBP M Yoris Maulana Yusuf Marzuki mengungkapkan, awal terbongkarnya kasus penjualan daging sapi dioplos daging babi yang dilakukan oleh suami-istri, inisial T dan R, itu dari penyelidikan yang dilakukan polisi.

“Betul kami telah mengamankan empat pelaku pengoplos dan penjual daging celeng di wilayah KBB. Pelaku utamanya sepasang suami istri yang diamankan di Desa Jayamekar, Padalarang, Jumat (26/6/2020) kemarin,” kata mantan Kasat Reskrim Polrestabes Medan tersebut.

Keduanya mengakui perbuatan tersebut yang telah berlangsung selama enam tahun atau sejak 2014. Mereka mendapatkan daging celeng dari seorang pemasok di Sukabumi.

“Jadi mereka dapat daging celeng ini dari Sukabumi. Kemudian mereka jual dengan cara dioplos dengan daging sapi impor. Perbandingannya dua kilogram daging sapi impor dicampur dengan dua kilogram daging babi,” ucap Yoris.

T dan R menjual daging tersebut ke tersangka lainnya yakni D dan N. D merupakan seorang penjual daging dan pembuat bahan baku bakso di Tasikmalaya, sementara N merupakan pedagang daging di Purwakarta.

D dan N merupakan pelanggan tetap tersangka T dan R. Tersangka D setiap bulannya menerima suplai daging sebanyak 70 kilogram, sementara N menerima suplai daging setiap dua minggu sebanyak 20 kilogram.

“Mereka menerima daging itu secara rutin dan dijual dengan harga yang lebih murah, antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu per kilogram,” ujar Yoris.

Para tersangka tersebut menjual daging oplosan demi mendapatkan keuntungan lebih besar. Perbedaan harga antara daging celeng dengan daging sapi impor hampir dua kali lipat.

“Analoginya kalau harga daging sapi Rp110 ribu, keuntungan mereka sudah dua kali lipat. Jadi memang tujuan mereka menjual daging oplosan ini untuk mendapatkan keuntungan lebih,” tutur Yoris.

Mereka disangkakan Pasal 62 ayat 1 atau 2 jo Pasal 8 ayat 1 huruf d UU RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen serta Pasal 91 A jo Pasal 58 ayat (6) UU RI Nomor 41 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. “Ancaman hukumannya maksimal 10 tahun,” ujar Yoris. (red/dc/metro24.co)