Ustad Ade Darmawan dalam konferensi pers 'Menjawab Tuduhan Djarot Terhadap Akhyar'. (foto: ht/metro24.co)

MEDAN, Metro24.co – Panas, ini balasan kubu Akhyar Nasution terhadap tuduhan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Djarot Saiful Hidayat. Ada soal framing dan kezaliman…

Relawan Jadikan Akhyar Medan Satu (JAMU) menggelar konferensi pers dengan teman: Menjawab Tuduhan Djarot Terhadap Akhyar. Konferensi pers tersebut dipimpin Ketua Relawan JAMU, Ustad Ade Darmawan, di Kantor Travel Ar-Rahman, Jalan Sei Batanghari, Medan, Rabu (29/7/2020).

Selain dihadiri puluhan wartawan, konferensi pers tersebut juga dihadiri sejumlah ustad Baitul Muslimin Indonesia (BMI) Kota Medan yang diketuai Ade Darmawan sebelum mengundurkan diri hari ini. BMI merupakan organisasi sayap PDI Perjuangan.

“Selama ini Akhyar diserang, dan ada yang bilang, “Kok diam saja?”. Makanya kami hari ini akan menjawab semua tuduhan yang disampaikan Mas Djarot pada tanggal 19 Juli lalu,” kata Ade Darmawan.

“Mas Djarot mengatakan, PDI Perjuangan tak mencalonkan Akhyar yang notabenenya kader tulen pada Pilkada Medan 2020. Alasannya, Mas Djarot menyebut Akhyar terseret kasus MTQ Medan 2019,” sebutnya.

“Perlu kami jelaskan, Akhyar tidak ada sangkut pautnya dengan MTQ. Akhyar bukan kuasa pengguna anggaran (KPA) dan juga pengguna anggaran (PA). Jadi ini framing yang ditujukan kepada Akhyar yang kemudian diperiksa dalam dugaan kasus tersebut,” ujarnya.

“Tapi perlu diingat, tahun 2016 lalu pencalonan Mas Djarot sebagai kontestan Pilkada DKI Jakarta juga dibayangi kasus reklamasi. Meski akhirnya tak terbukti, Akhyar juga tak terbukti di kasus MTQ. Lalu mengapa yang satu bisa dicalonkan, yang lain tidak,” tambahnya.

“Mas Djarot bilang, Akhyar tak dicalonkan PDI Perjuangan juga karena terkait kasus korupsi Dzulmi Eldin. Faktanya, yang sempat dicekal KPK bukan Akhyar, tapi justru anggota DPRD Sumut si A, yang kita tahu kawan siapa dia,” ucapnya.

Ade Darmawan juga menjawab tuduhan Djarot yang menyebut Akhyar pindah partai karena haus kekuasaaan. Ini setelah Akhyar dicalonkan Partai Demokrat dan PKS dalam Pilkada Medan karena tak dicalonkan partainya sendiri.

“Kami jawab tidak, bukan haus kekuasaaan, tapi Akhyar ingin melawan kezaliman. Kalau Akhyar haus kekuasaan, tentu Akhyar menerima tawaran menduduki jabatan penting dan strategis, dan tidak maju dalam Pilkada Medan,” terangnya.

Ade mengatakan, pada Januari 2020 lalu ada sejumlah pihak yang menemui Akhyar di suatu tempat di Medan. “Mereka menawarkan jabatan penting kepada Akhyar, asal tak maju, tapi kompensasi itu ditolak Akhyar. Kalau ada anak muda mau maju ke Pilkada Medan, ya maju saja, tapi harus fair play,” imbuhnya.

Baik dirinya mau pun Akhyar merupakan orang yang paling berkeringat pada Pilgub Sumut 2018, Pileg 2019 untuk PDI Perjuangan, juga saat Pilpres. “Tapi sudahlah, ini politik, besok lawan, hari ini jadi kawan, besok kawan, hari ini lawan, tapi harus fair play,” sebutnya.

Karena berbeda kepentingan, Ade Darmawan hari ini telah mengirimkan surat pengunduran diri sebagai kader dan pengurus PDI Perjuangan. “Selain sebagai Ketua BMI Kota Medan, saya di DPC PDI Perjuangan Medan juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Ideologi. Jabatan saya sama dengan Mas Djarot, saya di Medan, Mas Djarot di pusat,” sebutnya. (ht/metro24.co)