Salah seorang korban amuk warga di Bahorok. (dok.metro24.co)(rud/metro24.co)

LANGKAT, Metro24.co – Petugas Polres Langkat masih melakukan penyelidikan kasus main hakim sendiri yang dilakukan warga Desa Tanjung Lenggang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut).

Kasus tersebut berawal dari dugaan penyanderaan seorang ibu, Septiana (28) dan bayinya yang masih berusia 2 bulan karena suaminya, Dedek Ardika alias Memet, tak sanggup membayar utang.

Akibat amuk ratusan warga ini, 1 rumah, 1 unit sepeda motor dan 1 unit mobil dibakar. Bahkan, salah seorang tewas akibak aksi main hakim sendiri tersebut. Berikut kronologinya seperti dihimpun metro24.co, Sabtu (11/1/2020):

Kamis, 9 Januari 2020

Pukul 09.30 WIB

Seorang pria berinisial GT yang mengenderai mobil Daihatsu TafT Nopol BK 118 ZO, menjemput Septiana, istri Dedek Ardika alias Memet dari rumahnya. Septiana terpaksa membawa bayinya yang masih berusia 2 bulan. Ibu kandung Septiana, Saidah, juga turut dibawa.

GT memaksa membawa Septiana untuk menemui suaminya di Pantai Barokah, Dusun Sei Merti Baru, Desa Tanjung Lenggang. Setelah sampai di lokasi, GT memaksa Memet untuk menyerahkan uang sebesar Rp 20 juta. Uang tersebut merupakan utang atau ganti rugi kerusakan alat berat excavator yang menurut GT dilakukan Memet.

Namun Memet dan Septiana tidak memiliki uang sebanyak itu. GT pun marah besar. Ia kemudian memerintahkan Memet, istri, dan mertuanya untuk tetap tinggal di gubuk di Pantai Barokah. Sementara GT langsung meninggalkan tempat tersebut.

Pukul 17.30 WIB

Karena GT tak lagi datang ke tempat itu, Memet menyuruh istri dan anak serta mertuanya untuk pergi. Dengan menumpang truk pengangkut batu kali, mereka pun pergi dan meminta bantuan ke rumah Kepala Desa (Kades) Tanjung Lenggang.

Setibanya di rumah Kades Tanjung Lenggang, Septiana meminta pertolongan dan perlindungan. Namun keberadaan mereka diketahui GT yang langsung mendatangi rumah Kades. kemudian terjadi cekcok mulut antara GT dan Septiana yang dibantu ibunya, Saidah.

Jumat, 10 Januari 2020

Pukul 02.00 WIB

Akhirnya persoalan GT dan Memet diketahui warga. Sejumlah warga kemudian mendatangi rumah Kades. Mereka kemudian menyelamatkan Septiana, anak dan mertuanya, lalu diantarkan pulang ke rumah mereka.

GT dan dua orang temannya yang mengendarai mobil Daihatsu Taft GT BK 118 ZO lalu meninggalkan rumah Kades dan menemui ratusan warga yang telah menyemut di Kantor Desa. Suasana memanas, setelah terjadi cekcok mulut dengan warga.

Kalah jumlah, GT dan dua rekannya lalu kabur ke arah Pantai Along. Tanpa komando, warga pun langsung mengejarnya. Sesampainya di Pantai Along, warga melakukan tindak kekerasan terhadap GT sehingga tak sadarkan diri. Tak puas, warga kemudian membakar mobil Daihatsu Taft BK 118 ZO serta membakar gubuk yang ada di tempat tersebut. Sedangkan dua orang rekan GT berhasil melarikan diri.

Pukul 20.00 WIB.

Warga kembali melakukan penganiayaan terhadap RASD (41), warga Dusun IV Pante Sampah, Desa Tanjung Lenggang. Warga menuduh RASD ada sangkut pautnya dengan GT.

Pukul 21.00 WIB

Warga kembali melakukan penganiayan terhadap ES (42), warga Dusun I Lambhouk, Desa Timbang Jaya, Kecamatan Bahorok, yang mengakibatkan korban meninggal dunia. Setelah melakukan penganiayaan, warga kembali melakukan pengerusakan dan pembakaran satu bangunan semi permanen dan genset di Pantai Okor, Dusun Kerikit, Desa Perkebunan Bungara, Kecamatan Bahorok.

Kapolres Langkat AKBP Doddy Hermawan Sik saat dikonfirmasi metro24.co melalui Kasat Reskrim AKP Tenuku Fathir Sik membenarkan kejadian penganiayaan dan perusakan dengan cara pembakaran yang dilakukan oleh warga Desa Tanjung Lenggang.

“Untuk saat ini Satreskrim Polres Langkat sudah melakukan pemeriksaan terhadap 10 orang saksi dan akan melakukan penindakan terhadap para pelaku, baik itu pelaku pengancaman, pengrusakan dan pembakaran, dan pelaku penganiayaan. Saat ini situasi sudah kondusif. Kami harap semua masyarakat agar dapat mematuhi hukum dan aturan yang berlaku,” pungkasnya. (rud/metro24.co)

 

 

Editor: H Talib