Sidang kasus LPJU Labuhanbatu

MEDAN-M24
Penandatanganan kerjasama kontrak pengadaan dan pengerjaan proyek Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) di Kabupaten Labuhanbatu pada tahun 2013 dengan pagu anggaran Rp3,9 miliar bukan oleh terdakwa Penman yang disebut sebagai Kuasa Direktur PT. Manguncoy dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada PT. Cipta Karya, Senang. Namun penandatanganan dilakukan antara terdakwa Senang dengan seseorang bernama Zulham atas jaminan Indramono.

Hal tersebut terungkap dalam sidang lanjutan dugaan korupsi proyek LPJU Labuhanbatu yang digelar di ruang Cakra 9, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (11/3) sore.

Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Aswardi Idris itu, secara lugas PPK Senang yang merupakan saksi mahkota menyebutkan bahwa penandatanganan kontrak proyek tersebut hanya dilakukan antara dirinya dengan Zulham, bukan dengan terdakwa Penman atas jaminan dari Indramono.

“Penandatanganan antara saya selaku PPK dengan Zulham stafnya Indramono. Penman gak datang, itu atas jaminan Indramono,” ungkap terdakwa Senang kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tulus.

Loading...

Dalam kesempatan tersebut, terdakwa Senang juga membeberkan bahwa selama pekerjaan proyek pembuatan lampu jalan, terdakwa Penman sama sekali tidak pernah datang meninjau dan melihat kondisi pengerjaan lampu jalan.

“Dia gak pernah datang ke lapangan, yang selalu datang adalah Indramono dan Sufri,” beber Senang.

Bahkan dalam pemeriksaan dirinya, terdakwa Penman kepada hakim mengaku tidak tahu samasekali siapa pemilik PT Manguncoy, ia hanya direkomendasikan Indramono sebagai Kuasa Direktur.

“Saya gak tau PT Manguncoy milik siapa. Saya hanya disuruh Indramono untuk jadi kuasa direktur, Pak Hakim,” beber Penman.

Pantauan wartawan, dalam sidang yang merugikan uang negara Rp579 versi saksi ahli tersebut, hakim samasekali tidak bertanya dan mencari tahu kemana sisa uang Rp2,4 miliar sisa pembayaran Rp1 miliar dan kerugian negara Rp500 juta, dari pagu anggaran Rp3,9 miliar.

Sementara itu, terdakwa Penman yang ditanya usai sidang, apakah dirinya hanyalah dijadikan tumbal oleh Indramono, lari terbirit-birit menuju sel tahanan sementara PN Medan.

Hal sama juga dilakukan oleh Senang, ia juga ngacir dan bungkam ketika ditanya kembali soal penandatanganan kontrak hanya dengan Zulham bukan dengan Penman.

“Iya memang gitu. Indramono yang jamin,” cetusnya singkat sambil buru-buru menuju sel PN Medan menyusul Penman. (ansah)