Merry, salah seorang korban pengantin pesanan China, membeberkan kisahnya. foto ilustrasi

 

“Saya sering lihat unggahan dia pamer uang. Saya janda, pasti tergiur (Uang Rp20 juta, red). Saya pikir, kalau hancur, hancur sekalian, tapi saya hancur untuk anak, bukan untuk hura-hura,” kata Merry.

DAN sejak itulah Merry dikenalkan Nurlela kepada sejumlah orang yang belakangan ia sebut bagian dari sindikat perdagangan orang. Dari Kabupaten Landak, Merry dibawa laki-laki yang disebutnya sebagai comblang ke Pontianak, kota terbesar di Kalimantan Barat, berjarak sekitar empat jam perjalanan dari rumahnya. Di Pontianak, Merry mengaku bertemu tiga laki-laki asal China.

Merry berkata, dua orang di antaranya merupakan agen perkawinan, sementara satu orang laki-laki lainnya adalah calon suaminya. “Calon kamu pengusaha, kalau kamu nikah sama dia pasti enak, tidak akan menyesal. Kamu bisa pulang ke Indonesia kapan pun,” kata Merry merujuk pernyataan comblangnya.

“Hidup mati saya sudah tidak ada yang tahu” Sejak saat itu proses perkawinan Merry dengan laki-laki China itu pun dimulai, dari pertunangan bernuansa tradisi Dayak hingga urusan administrasi paspor dan visa. Berbeda dengan perkawinan pertamanya, Merry mengaku tidak ada unsur cinta dalam rumah tangga keduanya. Ia pun tak menguasai Mandarin, bahasa yang digunakan suami keduanya.

Akhir tahun 2018, dibiayai comblang, Merry terbang ke China bersama ayahnya. Setibanya di Beijing, Merry diajak keluarga suaminya berkeliling kota, termasuk ke Lapangan Tiananmen. Dan hari-hari yang tak pernah Merry bayangkan terjadi setelah ayahnya pulang ke Indonesia, kondisi yang ia sebut sebuah perangkap.

“Aktivitas saya dari pagi nyapu, ngepel, nyuci pakaian, masak, lalu masuk ke kamar. Sorenya begitu lagi. Setiap hari. Saya tidak tahu kenapa tidak boleh keluar rumah, mertua bilang dia takut saya diculik orang,” kata Merry.

“Bulan Desember bapaknya mulai kurang ajar. Saya menerima pelecehan seksual. Saya kasih bukti ke suami, tapi dia tidak percaya. Saya dipukul kayu.”

“Handphone saya diambil. Pamannya cekik saya, bibinya pegang tangan saya, ibunya tarik ponsel dari tangan saya.”

“Saya putus hubungan dengan keluarga. Hidup mati saya sudah tidak ada yang tahu. Setiap hari kepala saya dipukul. Saya cuma bisa pasrah dan berdoa,” ujar Merry.

Merry berkata suaminya tidak pernah mengirim uang untuk keluarganya di Landak, Kalimantan Barat. Ibu mertuanya malah menyuruhnya bekerja membuat kerajinan tangan, tanpa upah. (*)

Editor : S Tandang
Sumber : Kompas.com