Taman dan Tumina di rumah papan kontrakannya. (reza/metro24.co)

SIDIMPUAN, Metro24.co – Nasib memprihatinkan tampak dari suasana rumah tangga pasangan suami istri lanjut usia (lansia), Taman (77) dan Tumina (70) yang bertempat tinggal di Gang Sahad Al-Habib Harahap, Dusun IV, Desa Pudun Jae, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua, Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara (Sumut).

Pasalnya, meski sudah 10 tahun masuk dalam daftar data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS), namun keduanya tak pernah sama sekali mendapat bantuan dari pemerintah. Saat ini, pasutri tersebut tinggal di rumah kontrakan mereka yang terbuat dari papan berukuran panjang 4 meter dan lebar 3 meter.

Lantaran usia keduanya yang sudah senja, mereka tidak mampu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Saat ini, keduanya hanya berharap dari pemberian anak-anaknya dan orang lain. Sayang, anak-anak mereka juga memiliki keterbatasan ekonomi, apalagi setelah adanya wabah Covid-19. Saat ini, keduanya sangat membutuhkan bantuan terutama sembako.

“Bingung, saya sudah terdaftar di DTKS sejak 10 tahun yang lalu, tapi tidak pernah dimasukkan sebagai anggota penerima bantuan. Saya tidak tau apa alasannya, yang pasti sampai saat ini tidak pernah dapat bantuan,” ujar Taman kepada awak media sembari mengharapkan bantuan sembako dari pemerintah setempat.

Terpisah, salah seorang anak Taman bernama, Muliono (38) mengaku, selama ini dia bersama saudaranya yang lain terus membantu kebutuhan hidup kedua orang tuanya. Apabila memiliki penghasilan lebih, Muliono selalu menyisakan rejekinya kepada orangtuanya. Kondisi yang sama juga dilakukan oleh saudara-saudaranya yang lain.

Berbagai usaha sudah dia lakukan untuk mencari penyebab orangtunya tidak menerima bantuan, salah satunya dengan mendatangi kepala lingkungan (Kepling). Sayangnya, dia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan lantaran Kepling tersebut menyuruh Muliono mempertanyakan langsung ke Dinas Sosial (Dinsos) Kota Padangsidimpuan.

“Ketika kami tanya ke salah seorang pegawai Dinsos, mereka menjelaskan, data dari aplikasi SIKS-DATAKU yang memuat tentang DTKS tidak valid. Kami berharap, pemerintah memperhatikan kondisi kedua orangtua saya, karena mereka tidak bisa bekerja,” Harap Muliono. (reza/metro24.co)