Kapoldasu Irjen Martuani Sormin saat memimpin konpers pembunuhan hakim Jamaluddin. (foto: ist/poldasu)

MEDAN, Metro24.co – Ini kisah lengkap kasus pembunuhan hakim PN Medan, Jamaluddin, yang diotaki oleh istrinya, ZH. Ternyata motifnya cemburu dan selingkuh. Karena ‘dendam cinta’, ZH lalu menyewa pembunuh bayaran, JL dan R, untuk menghabisi nyawa suaminya.

Kasus ini terungkap setelah sebulan lebih. Pembunuhan berencana yang dilakukan ketiga tersangka ini sangat rapi dan menggunakan alat yang tak biasa, sehingga polisi sempat kesulitan mengungkapnya.

“Ini kasus pembunuhan berencana. Kalau motif masih didalami lagi namun untuk sementara motifnya adalah rumah tangga,” ujar Kapoldasu Irjen Pol Martuani Sormin didampingi Dirreskrimum Kombes Pol Andi Rian dan Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jhonny Edison Isir dalam konferensi pers di Mapoldasu, Rabu (8/1/2020).

Irjen Martuani Sormin mengatakan, pelaku utama kasus pembunuhan ini adalah ZH, istri kedua Jamaluddin dan dibantu Jl dan R sebagai eksekutor. “Kita simpulkan dari alat bukti milik korban seluruhnya yang diangkat dari TKP,” jelas Kapolda lagi.

Menurutnya, penyidik sempat kesulitan mengungkap kasus ini karena pelaku menggunakan alat komunikasi yang tidak biasa. Namun berkat pemeriksaan laboratorium forensik dan jejak digital pihaknya bisa menyimpulkan kalau kasus ini adalah pembunuhan berencana.

“Jadi kejadiannya pada 28 November dan ditemukan pada 29 November. Memang kurun waktu yang cukup panjang atau hari ke 40 kematian korban baru bisa kita ungkap tapi kita apresiasi kepada seluruh tim yang terlibat dalam pengungkapan ini termasuk masyarakat yang membantu kami memberikan informasi,” ujarnya..

Mantan Kapolda Papua itu mengatakan, Jamaluddin dibunuh di rumahnya, Komplek Royal Monaco, Jalan Aswad, Medan. “Para pelaku sudah ada di rumah sebelum korban pulang dari kantor,” terangnya.

Martuani menjelaskan, untuk saat ini motif pembunuhan masih akan dilakukan pendalaman. Hanya, sebut dia, pihaknya menduga kejadian ini dilatarbelakangi oleh masalah keluarga.

“Jadi untuk masalah motif masih akan kita dalami oleh penyidik, karena kami masih perlu pembuktian,” jelasnya.

Menurut Martuani, kasus pembunuhan ini memang sangat rapi dan baik, sehingga dari hasil forensik korban awalnya disebutkan mati lemas dan tidak ditemukan tanda kekerasan. “Tapi melalui hasil lab forensik diketahui bahwa pelaku (sebelum pembunuhan) ada komunikasi dengan isteri korban (ZH),” terangnya.

Berawal dari Cemburu

Pembunuah sadis ini dilatarbelakangi sakit hati ZH yang mengaku diselingkuhi korban. Pernikahan antara korban dengan ZH dilakukan pada 2011 dan kini telah dikaruniai seorang anak perempuan. Seiring waktu, ZH pun merasa cemburu karena ia merasa diselingkuhi korban.

Pada Maret 2019, ZH pun berniat menghabisi nyawa korban dan meminta seseorang berinisial J untuk membunuh korban, namun J tidak bersedia. Sementara itu di waktu berlawanan, ZH yang telah mengenal JL sejak tahun 2018, karena anak mereka satu sekolah, menjalin hubungan asmara, lantaran sering bertemu.

Selanjutnya pada 25 November 2019, ZH dan JL merencanakan aksi pembunuhan di sebuah coffee shop di kawasan ringroad serta memberitahukannya kepada R. Setelah bersepakat, ZH pun memberikan uang kepada R untuk membeli handphone kecil, kaos, sepatu dan sarung tangan.

Selanjutnya pada 28 November 2019 malam, kedua pelaku pun mendatangi rumah korban dan naik ke lantai 3. Setelah mendapatkan aba-aba dari ZH, keduanya pun melakukan eksekusi dengan membekap hidung dan mulut korban menggunakan bedcocer dan bantal hingga tewas.

Saat ini ketiga tersangka telah ditahan diancam hukuman mati. “Ketiganya akan dikenakan Pasal 340 pembunuhan berencana, junto Pasal 338. Mulai saat ini ketiganya resmi ditahan sebagai tersangka,” ungkap Kapolda. (ZT/metro24.co)

 

Editor: H Talib