Muslim Istiqomah (pakai lobe putih berkemeja batik)

TEBINGTINGGI-M24
Setelah menunggu dua bulan, Ketua Front Pembela Islam (FPI) Kota Tebingtinggi, Muslim Istiqomah Sinulingga dijadikan tersangka insiden keributan saat peringatan Harlah NU ke 93 di Tanah Lapang Merdeka, Kota Tebingtinggi, 27 Pebruari 2019.

Penetapan tersangka tersebut berdasarkan surat yang dikeluarkan pihak Polres Tebingtinggi dengan Nomor Sp.Tap/04/V/2019/Reskrim yang memutuskan mengalihkan status Muslim Istikomah Sinulingga alias Muslim (45) warga Jln Gunung Sibayak, Link II, Kel Tanjung Marulak Hilir, Kec Rambutan, Kota Tebingtinggi, yang awalnya berstatus sebagai saksi menjadi tersangka.

Muslim dijerat Pasal 160 Subs Pasal 175 Yo Pasal 55 dari KUHPidana. Perobahan status terhitung sejak 13 Mei 2019.

Terpisah, tim pengacara Borkat Harahap SH pada Rabu (15/05) menilai penetapan tersangka terhadap kliennya aneh. Pasalnya, dalam kasus tersebut, Polres Tebingtinggi telah menetapkan 11 orang tersangka dan telah menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Tebingtinggi.

Loading...

“Kasusnya sudah bergulir dan diteliti pihak kejaksaan, dan kini sedang proses sidang di pengadilan, tapi kenapa Penetapan tersangka terhadap Muslim tidak dari awal?” ucap Borkat.

Dia meminta pihak Polres menangguhkan pemeriksaan terhadap Ustad Muslim yang akan diperiksa pada Kamis (16/5) ini menunggu putusnya perkara prapradilan.

“Saya menduga keterlibatan ustad Muslim tidak cukup. Kalau sudah cukup tentu dari awal jaksa mendakwa. Kok sekarang Ustad Muslim diperiksa jadi tersangka. Apa bukti-bukti polisi? Inilah yang akan kita prapradilan,” tandasnya.

Sementara Kasat Reskrim Polres Tebingtinggi, AKP Rahmadhani SH menyebut Muslim berulang kali tidak datang saat dilakukan pemanggilan sebagai saksi.

Ketua FPI Tebingtinggi, Muslim Istiqomah menduga ada indikasi politik dalam penetapannya sebagai tersangka. Apalagi sudah ada upaya penyelesaian lewat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Karena masalah tersebut bukan masalah kriminal akan tetapi masalah keumatan.

Dia mengakatakan, terkait kejadian insiden keribuatan saat peringatan Harlah NU di Lapangan Merdeka Kota Tebingtinggi, Februari 2019 lalu, tidak ada atribut FPI di sana. Ke-11 orang tersangka juga bukan anggota FPI, melainkan hanya simpatisan.

“Tidak ada perencanaan sebelum kejadian. Ada warga dan teman-teman datang minum di warung depan rumah. Mereka mengabarkan akan datang Abu Janda di Tebingtinggi. Lalu mereka menanyakan ke saya apa boleh datang, lalu saya bilang boleh saja kalau sekedar foto-foto dan merekam gambar. Jadi tidak ada perencanaan atas keributan pada acara tersebut. Juga tidak ada pemukulan atau pengerusakan,” ucapnya. (agus)