Kaplsek Medan Baru saat memaparkan kasus ORT aborsi.

MEDAN-M24

Polsek Medan Baru menangkap pacar YL (21), pembantu rumah tangga (PRT) yang tewas aborsi di Jalan Hasanuddin, Kel Petisah Hulu, Kec Medan Petisah, Sabtu (9/3). Lelaki itu berinisial MJH alias Meiman (20), warga Lewa-Lewa, Boronadu, Nias.

Kapolsek Medan Baru, Kompol Martuasah Tobing dalam keterangan persnya, Senin (11/3), mengatakan, Meiman diamankan di Jalan Bulan Medan. Meiman diduga kuat terlibat dalam aksi aborsi yang dilakukan YL.

“Tersangka MJH kita amankan di belakang Mako Brimob, di salah satu kos-kosan setelah 4 jam korban tewas,” terang Kompol Martuasah. Dijelaskan mantan Kapolsek Medan Kota itu, Meiman yang merupakan pacar YL berperan membeli obat penggugur kandungan untuk dikonsumsi sang pacar.

Loading...

“Memang korban yang meminta dibelikan obat. Tersangka MJH melakukan permintaan korban,” jelasnya.

Meiman mengaku membeli obat penggugur kandungan (redaksi sengaja tidak menuliskan merk) secara online seharga Rp1,1 juta. Dalam sehari, obat tersebut harus dikonsumsi oleh YL sebanyak 16 butir. Namun, belum sampai obat tersebut habis, YL keburu meregang nyawa berikut janin dalam kandungannya.

“Obat itu diminum sehari 4 kali. Dalam setiap kali konsumsi, korban harus meminum 4 butir,” lanjut Martuasah.

Akibat perbuatannya, Meiman pun dipersangkakan melanggar Pasal 348 KUHPidana, dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara.

“Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya, jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut, diancam dengan pidana penjara paling lama 7 tahun,” tegas Martuasah.

Sementara Meiman ketika ditanyai wartawan mengaku menjalin hubungan asmara dengan YL selama 8 bulan. Mahasiswa salah satu universitas swasta di Medan itu juga mengakui semua perbuatannya.

“Iya bang, kami pacaran dari bulan Juli tahun lalu. Dia yang nyuruh aku beli obat, karena malu sama keluarga di kampung,” aku Meiman sembari dibawa petugas ke sel tahanan.
Seperti diberitakan metro24 kemarin, YL ditemukan tewas di dalam kamar mandi rumah majikannya dengan kondisi bersimbah darah. Tak jauh dari posisi korban, ditemukan orok berjenis kelamin laki-laki diperkirakan berusia 7 bulan yang juga sudah tak bernyawa.

Kapolsek Medan Baru, Kompol Martuasah Tobing kepada wartawan, Minggu (10/3) mengatakan, mayat YL pertama kali ditemukan oleh Silvia (32), sang majikan. Sebelum ditemukan tak bernyawa, Silvia sempat mendatangi kamar dan memanggil-manggil YL. Namun bukannya menemukan YL, Silvia malah menemukan bercak darah di sekitaran pintu kamar korban.

Dari balik pintu kamar, YL mengaku jika dirinya sedang sedang datang bulan (menstruasi).
Meski begitu, Silvia yang saat itu bersama suaminya, Yopi (34) bersikeras meminta YL untuk membuka pintu kamar. Namun lagi-lagi YL tak jua membuka dengan alasan sedang tidak mengenakan pakaian.

“Suami Silvia sempat akan mendobrak. Karena korban mengatakan tidak menggunakan busana, niat untuk mendobrak pun urung dilakukan,” lanjutnya.
Dari situlah berbilang menit kemudian, Silvia menemukan YL sudah tak berdaya dengan kondisi berlumuran darah pada bagian alat vitalnya.

Melihat itu, Silvia sontak histeris dan memanggil suaminya, Yopi. Dengan sigap Yopi menghubungi ambulans untuk membawa YL ke rumah sakit. Tak lama, ambulance dari salah satu rumah sakit tiba. Namun saat tubuh YL akan diangkat, sopir ambulans memastikan jika YL sudah tidak bernyawa. Alhasil, sang sopir ambulans tidak berani mengangkat tubuh YL dan memilih melaporkan kejadian itu ke Polsek Medan Baru. (tiopan)