MEDAN-M24

Kunjungan ke Medan usai ziarah kubur berujung maut. Taufik Hidayat (36) tewas diamuk massa lantaran diteriaki maling. Sebelumnya, teriakan itu membuat ayah dua anak ini dikejar-kejar banyak orang. Gugup, dia pun menabrak hingga tewas seorang ibu penjual empek-empek.

Tragedi akibat ‘jurus teriak maling’ yang digunakan sekelompok pengendara sepeda motor itu berlangsung Jumat (17/5) malam. Kegaduhan di sepanjang jalan, mulai Jermal XV, Medan Denai hingga HM Jhoni, Medan Area itu merenggut dua nyawa dan mengakibatkan rusaknya sejumlah kendaraan bermotor.

Baca Juga : Terpaksa Berutang untuk pulangkan jasad Taufik

Loading...

Cerita bermula pagi hari, sekitar pukul 09:00 WIB. Ketika itu, Taufik Hidayat (36) bersama istri, Windi Ika Dara (32) dan kedua anaknya tiba di Medan mengendarai Bus Putra Pelangi. Setahun belakangan, mereka diketahui tinggal di Lambaro Kape KM 8,5, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Berangkat dari Aceh, mereka yang dulunya warga Jln Jati 3 Gg Ampera 2, Medan Kota ini bermaksud menziarahi kubur keluarga yang meninggal di Galang, Kab Deliserdang.

Sesampainya di Pool Bus Putera Pelangi, mereka dijemput teman Taufik yang sebelumnya telah dihubungi. Selanjutnya, dengan mengendarai mobil Avanza hitam BK 1780 DN yang dirental, mereka menuju Jln Menteng 7, Denai, menjemput keluarga lain untuk bersama-sama ke Galang, Deliserdang.

“Saat itulah suamiku (Taufik) mengambil alih mobil karena temannya mengaku capek,” kata Windi yang ditemui metro24 ketika menunggu kedatangan jenazah Taufik dari RS Bhayangkara Medan, Sabtu (18/5) siang.

Sesampai di Galang, Taufik dan keluarganya langsung berziarah ke kuburan keluarganya. Karena masih dalam keadaan capek, Windi Ika Dara serta kedua anaknya menginap di Galang.

“Dia balik ke Medan bersama temannya. Sempat saya menyakan dimana dia (Taufik) tidur. Tapi dia bilang gampang dan bilang, ‘tidur di mobil juga bisa’. Ternyata itu pertanda bahwa dia meninggal karena aksi brutal warga saat berada di mobil,” kenang Windi, sambil meneteskan air mata.

Masih berdasarkan cerita Windi, sore sekitar pukul 15.00 WIB Taufik dan kedua temannya pulang ke Medan untuk mengantar keluarga ke Jln Menteng 7. Dari situ, Taufik mengarahkan mobil ke Jln Denai. Namun di jalan, pekerja bangunan itu menyenggol pengendara kreta (sepeda motor).

Taufik yang tidak merasakan senggolan itu terus melajukan kendaraannya. Tanpa disadari, pengendara yang disenggol mengajak teman-temannya mengejar dan coba menghentikan mobil. Sampai di sini, Taufik agaknya belum sadar telah dikejar. Taufik mendadak panik dan melajukan mobilnya menuju simpang Pasar Sukaramai, setelah para pengejarnya mengeluarkan ‘jurus teriak maling’.

Teriakan itu ampuh memprovokasi pengendara lain ikut mengejar. Melihat semakin banyak yang mengejar, Taufik kian panik dan menekan pedal gas dan melajukan mobil ke Jln AR Hakim arah Jln HM Joni, Pasar Merah, Medan Kota. Sebelum simpang Jln Megawati, pengejar bertambah. Taufik pun kembali menyenggol kreta yang dikendarai Wendi (26), warga Jln Kebun Kopi, Gg Rahmat No.85, Medan hingga terluka.

Hal itu membuat Taufik semakin panik melajukan mobilnya. Di simpang Jln Bromo, Taufik kembali menabrak Arni Samra (56), warga Jln AR Hakim Medan yang sedang berjualan Empek-empek Barokah bersama putrinya Vivi (23).

Belakangan diketahui Arni Samra terluka parah dan meninggal dunia di RS Madani.

Warga yang melihat peristiwa itu marah dan ikut mengejar mobil yang dikendarai Taufik. Situasi itu membuat teman Taufik memutuskan melompat dari mobil menyelamatkan diri. Ditinggal temannya, Taufik semakin panik membawa mobil menuju Jln HM Jhoni. Sebelum Museum Nasional, Taufik menyenggol mobil warna merah. Jalanan yang padat membuat Taufik tak bisa melarikan diri.

Tanpa dikomando, warga yang marah langsung menyerang mobil yang dikendarai Taufik. Dari video yang tersebar di sejumlah grup WhatsApp (WA) wartawan, warga pertama memecahkan kaca jendela mobil dengan helm dan batu. Taufik lalu diseret keluar mobil dan dihajar warga dengan tangan, kaki, maupun helm ke bagian kepala.

Tak lama, petugas kepolisian yang menerima informasi tiba ke lokasi. Taufik yang babak belur pun dibawa ke RS Bhayangkara Medan. Namun, nyawanya tidak bisa diselamatkan. Ayah anak dua itu pun tewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Amuk warga ternyata belum berhenti. Mobil Avanza yang dikendarai Taufik dibalikkan hingga rusak parah. Kasus ini pun sudah ditangani Polrestabes Medan.

“Keterangan yang kami himpun, ada kecelakaan beruntun sampai dia menabrak pejalan kaki. Ditinggalkan, kemudian dikejar massa dan berhenti di Jalan HM Jhoni, tak jauh dari Jalan Gedung Arca. Di situlah ada amuk massa,” kata Kasat Lantas Polrestabes Medan, AKBP Juliani saat dikonfirmasi metro24, Sabtu (18/5).

Sementara itu, lanjut Juliani, peristiwa itu murni lakalantas (kecelakaan lalulintas). Pada peristiwa itu, pengendara kreta bernama Wendi yang sempat dirawat telah pulang ke rumah. Sedangkan korban yang meninggal atas nama Arni Samra telah dibawa keluarganya untuk dikebumikan.

Juliani juga membantah rumor yang menyebut Taufik merupakan maling. Pihaknya telah mencek dan datangi pemilik mobil yang merupakan warga Medan Area. Bahwa mobil tersebut dirental, Jadi mobil tersebut bukan mobil curian,” tegasnya.

Di akhir penjelasannya, Polwan berpangkat melati 2 ini mengatakan jika Taufik tidak ditinggal temannya seperti keterangan istrinya, Windi. Taufik sebelumnya memang bersama seorang rekannya, kemudian rekannya ditinggal di salah satu rumah makan seputaran Jln HM Joni Medan.

“Saat itu Taufik pamit dengan temannya untuk pergi sebentar, sampai akhirnya rekannya mendengar Taufik menabrak,” pungkas Juliani. (irwan)