Ilustrasi.

JAKARTA, Metro24.co – Lihat dahak Anda, jika warnanya seperti ini bisa jadi Anda terinfeksi Corona (COVID-19). Sementara untuk anak-anak biasanya ditandai dengan diare dan muntah.

Lendir atau dahak adalah cairan yang diproduksi paru-paru seseorang yang rusak atau sedang sakit. Berbeda dengan air liur, dahak ini jauh lebih kental.

Lendir ini diproduksi tubuh untuk membantu menjaga kelembaban jaringan yang ada pada saluran pernapasan. Ini bisa menangkap partikel kecil atau benda asing lain yang bisa mengancam kesehatan untuk dibuang keluar.

Namun, berbeda dengan orang yang sedang batuk biasa, dahak atau lendir dari orang yang terinfeksi virus Corona ternyata memiliki warna yang berbeda. Hal ini bisa membantu untuk membedakan mana penyakit infeksi akibat COVID-19 atau bukan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dari banyaknya gejala virus Corona yang ada, salah satu yang harus diperhatikan adalah produksi dahak. Produksi dahak sering menjadi berlebihan saat paru-paru mengalami infeksi yang berfungsi untuk membuat partikel asing penyebab infeksi keluar dari tubuh.

Dikutip dari express.co.uk, Rabu (2/8/2020), jika dahak yang dikeluarkan warnanya akan berbeda, lebih kental dan baunya tak sedap, itu bisa jadi salah satu indikasi kamu terinfeksi virus Corona.

Dari warnanya dahak itu tidak bening, melainkan bisa berwarna hijau, kental, dan berbau. Jika warnanya berubah semakin gelap, bisa saja itu menjadi pertanda bahwa infeksi virus sudah semakin parah.

Warnanya juga akan kembali berubah semakin bening, secara bertahap bersamaan dengan infeksi yang semakin membaik.

Selain berkaitan dengan gejala COVID-19, produksi lendir yang berlebih juga bisa terjadi karena faktor-faktor tertentu, seperti pada perokok, penderita asma, dan mereka yang mengalami fibrosis kistik.

Anak yang Terinfeksi Corona Lebih Banyak Alami Diare dan Muntah

Gejala umum virus Corona COVID-19 adalah demam tinggi, batuk persisten, hilangnya indra penciuman dan rasa. Tapi, sebuah penelitian baru menemukan gejala umum virus Corona pada anak-anak.

Dikutip dari laman Express, para peneliti dari Queen’s University Belfast mengatakan virus Corona COVID-19 lebih mungkin membuat anak-anak sakit perut dan diare daripada batuk.

Penelitian yang dilakukan pada Mei 2020 sampai sekarang ini bertujuan untuk menilai jumlah anak yang pernah terinfeksi virus Corona COVID-19. Penelitian itu juga menemukan gejala infeksi Corona dan kemungkinan anak-anak memiliki antibodi yang bisa melawan virus atau tidak.

Lebih dari 1.000 anak dari Irlandia Utara, Inggris, Skotlandia dan Wales dites antibodi mereka dalam uji coba yang disebut seroprevalensi infeksi SARS-CoV-2 pada anak-anak sehat.

Antibodi mereka diukur melalui tes darah pada tahap awal. Kemudian, tes lebih lanjut dilakukan pada 2 bulan dan 6 bulan. Para peneliti tersebut mengatakan mereka telah menemukan hasilnya setelah gelombang pertama pandemi virus Corona COVID-19. Hasilnya, mereka menemukan 7 persen anak dinyatakan positif memiliki antibodi, yang menunjukkan infeksi virus corona COVID-19 sebelumnya.

“Separuh dari anak-anak dengan virus Corona COVID-19 melaporkan tidak ada gejala. Gejala gastrointestinal, seperti diare dan muntah juga lebih umum terjadi pada anak-anak daripada batuk dan hilangnya indera penciuman,” kata peneliti.

Penemuan ini juga menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia 10 tahun memiliki kemungkinan yang sama untuk untuk memiliki bukti infeksi sebelumnya, seperti anak-anak yang lebih tua. Selain itu, anak-anak yang terinfeksi virus Corona tanpa gejala sama mungkinnya untuk mengembangkan antibodi seperti anak-anak yang bergejala.

“Setelah gelombang pertama pandemi di Inggris, kami telah mengetahui bahwa setengah dari anak-anak yang berpartisipasi dalam penelitian ini tidak menunjukkan gejala dengan infeksi virus Corona. Sedangkan mereka yang memiliki gejala biasanya tidak mengalami batuk,” kata Dr Tom Waterfield, seorang peneliti dari Wellcome-Wolfson Institute for Experimental Medicine di Queen’s University Belfast.

Studi ini telah menunjukkan bahwa perlu untuk mempertimbangkan pengujian bagi anak-anak yang terinfeksi virus Corona COVID-19. Temuan penting ini bisa dieksplorasi lebih lanjut, karena penelitian ini terus memantau penularan komunitas pada anak-anak untuk membantu mengatasi penyebaran virus Corona COVID-19. (red/express/dc/metro24.co)