Thomson Hutasoit.

MEDAN-M24

Senjata pamungkas penjajah kolonial menguasai bumi nusantara ratusan tahun lalu adalah taktik “devide et impera” atau politik adu domba. Tujuannya agar rakyat nusantara saling berperang satu sama lain. Kemudian penjajah kolonial menguasai nusantara sesuai grand desain yang ditentukan. Kini, menjelang Pemilu 17 April 2019, reinkarnasi politik kolonial adu domba kembali dimunculkan demi kepentingan untuk berkuasa.

Peringatan tersebut dilontarkan Thomson Hutasoit, seorang pemerhati sosial politik kepada metro24 di Medan, Minggu (3/2) siang .

Thomson menjelaskan, politik adu domba dilancarkan melalui framing atau narasi kata-kata ujaran kebencian, fitnah, hasutan, hujatan, adu domba, agitasi, hoax hingga aksi-aksi palsu mengatasnamakan rakyat. Namun orientasinya justru membenturkan sentimen suku, agama, ras, antar-golongan (SARA), primordial daerah serta isu-isu sektarian.

Loading...

“Politik adu domba dibungkus rapi dan apik sehingga sulit diketahui. Dibuat sebagai strategi melumpuhkan kekuatan tertentu. Targetnya membuat keresahan, kerusuhan dan menghancurkan kepercayaan publik,” tegas Thomson.

Thomson mengungkap, tatkala kolonial Belanda menjajah Indonesia, agen-agen pengkhianat bangsa disuap dengan fasilitas kemewahan luar biasa. Baik kekuasaan, harta maupun finansial. Membius alam sadar masyarakat serta terlena dalam praktik pembohongan, pembodohan, penyesatan bahkan manipulasi akal sehat.

Sentimen-sentimen sektarian-primordial disebutnya dilancarkan sistematis, masif dan terstruktur demi memantik api perpecahan, gesekan, konflik dan perang sesama anak bangsa. Dan ketika api permusuhan, perpecahan, konflik dan perang membakar seluruh sendi-sendi persaudaraan, Thomson memastikan penjajah kolonial muncul bak “dewa penyelamat” melalui kompensasi politik yang memasung atau mencengkram sendi-sendi kehidupan Nusantara.

“Politik adu domba Belanda inilah yang membuat kita terjajah ratusan tahun. Jadi sangat tepat dan akurat apa yang dikatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat Natal Nasional 2018 di Medan kemarin. Modal paling besar dan dahsyat bangsa Indonesia adalah persatuan. Sebab tanpa persatuan tak ada satu bangsa pun bertahan di atas jagat raya,” yakin Thomson.

Nah, menjelang Pemilu 2019, Thomson mengingatkan seluruh rakyat dan elite politik Indonesia agar mewaspadai politik adu domba demi ambisi berkuasa tanpa peduli keutuhan bangsa. Dia mencontohkan, Yugoslavia dan Uni Soyet Rusia adalah 2 negara yang tinggal situs sejarah dunia alias sebatas kenangan. Petaka perpecahan 2 negara tersebut dipastikannya tidak boleh terjadi karena Indonesia memiliki “4 ajimat” bangsa yaitu Pancasila, UUD RI 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika.

Bila diperhatikan seksama perpolitikan kekinian pasca-tahun politik suksesi kepemimpinan nasional (Pilpres/Pileg) 2019, timpal Thomson lebih jauh, sepertinya “wajah baru” reinkarnasi politik adu domba devide et impera sedang kembali muncul di Indonesia. Ciri-cirinya mulai mengadudomba dan membenturkan sentimen sektarian-primordial antar-suku, intra-suku, antar-agama, intra-agama, antar-ras, intra-ras, antar-golongan dan intra-golongan yang dilancarkan gencar pihak tertentu dengan target mengobok-obok serta memecahbelah persatuan Indonesia.

Tak sampai disitu, Thomson juga menyesalkan praktik-praktik pemutarbalikan fakta, penjungkirbalikan logika hingga penyesatan nalar berfikir. Ditonton rakyat di ruang-ruang publik selama proses Pilpres dan Pileg 2019.

“Fitnah, hujatan permusuhan, hasutan, adu domba, agitasi, ujaran kebencian, kebohongan dan penyesatan itu memantik rakyat terbelah sehingga saling tak percaya. Saling curiga, bermusuhan dan berkonflik. Pola-pola adu domba itulah yang dikemas sebagai taktik strategi meraih dukungan elektoral. Hal ini entu saja sangat berbahaya “meruntuhkan” keutuhan bangsa dan negara ke depan,” tukasnya. (budiman)

editor: juni ardi tanjung