Bocah SD yang tewas jatuh dari ayunan.

SIMALUNGUN-M24

Ketika bermain ayunan di jembatan, bocah laki-laki ini terjatuh tepat di saluran irigasi yang berada di dekat ayunan. Seketika dia terseret arus dan ditemukan tewas.

Bocah tersebut bernama Rafi (7). Dia hanyut di saluran irigasi Huta I Pasar Lama, Nagori Syahkuda Bayu, Kec Gunung Malela, Kab Simalungun, Sabtu (19/1) sore.

Pangulu Nagori Syahkuda Bayu, Nano (58) menjelaskan, anak dari pasangan suami istri (pasutri), Rahadim (37) dan Endang (35) ini bermain ayunan di jembatan papan dengan dua teman, Fadli (9) dan Rhamadan (9). Tiba-tiba Rafi dan Fadli jatuh dan terhanyut derasnya arus air irigasi. Melihat kedua teman jatuh, Rhamadan menjerit meminta tolong.
Masyarakat yang mendengar teriakan Rhamadan, berdatangan untuk menolong kedua korban. “Fadli berhasil diselamatkan. Namun Rafi tetap terbawa arus deras irigasi dengan kedalaman berkisar 2 meter,” beber Nano.

Loading...

Ditambahkannya, keberadaan siswa kelas 2 sekolah dasar (SD) ini akhirnya ditemukan warga berjarak 200 meter dari lokasi awal kejadian. Hanya saja, Rafi sudah tidak bernyawa. Tubuh mungilnya ditemukan warga mengambang diderasnya air.

Selepas itu, Rafi sempat dibawa ke Klinik Dokter Jenggot di Nagori Pamatang Asilom, Kec Gunung Malela. Hanya saja, dokter memastikan jika Rafi sudah meninggal dunia. “Diduga sewaktu ditemukan, korban telah meninggal di dalam air,” ujarnya.

Atas kejadian ini, Nano berharap seluruh masyarakat di nagori tersebut berhati-hati melepas anak-anak bermain di sekitaran saluran irigasi. Karena, sudah empat nyawa melayang di saluran irigasi itu sepanjang tahun 2018. Korban tewas yakni anak laki-laki berjumlah tiga orang dan seorang lagi perempuan dewasa.

“Saya mohon kepada seluruh masyarakat Nagori Syahkuda Bayu agar berhati-hati melepas anak-anak bermain di sekitaran irigasi. Untuk itu saya tekankan harap menjaga anaknya masing-masing,” pesan Nano kepada masyarakat.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat pihaknya akan memasang papan peringatan. “Peringatan itu nantinya akan bertuliskan, ‘Anak-anak dilarang bermain di sekitar saluran irigasi, karena berbahaya’,” tandasnya.

Sementara itu, ratusan warga menghantarkan jenazah Rafi ke persemayaman terakhir, Minggu (20/1) sekira pukul 10.30 WIB. Endang, ibu Rafi, sesekali menangis meratapi kepergian anak keduanya dari tiga bersaudara. “Dikebumikan di pemakaman umum di kampung ini juga,” ucap Adi (38), warga sekitar.

Menurut Rusdi, warga lainnya, keluarga Rafi dikenal ramah. Ayahnya jarang pulang karena bekerja sebagai sopir truk lintas Medan-Pekanbaru.

“Kalau ibunya di rumah saja merawat dan membesarkan ketiga anaknya. Di lingkungan desa ini, keluarganya dikenal ramah dan baik,” ujar Rusdi yang juga perangkat nagori di kawasan tersebut.

Terpisah, Kapolsek Bangun AKP Putra Jani Purba, menuturkan, pihak keluarga menganggap kejadian murni musibah karena kelalalaian. “Pihak keluarga juga telah membuat surat pernyataan tidak keberatan,” jelas Putra Jani Purba saat dihubungi wartawan. (john)

 

editor: juni ardi tanjung