Tersangka saat diperiksa polisi. (foto: dri/metro24.co)

ASAHAN, Metro24.co – Sebagai orangtua, seyogianya menjadi pelindung bagi keluarganya. Namun tidak demikian dengan J (42). Nelayan warga Desa Sei Apung, Kecamatan Tanjung Balai, Asahan, Sumut, ini justru menyalurkan bira-hinya terhadap putri kandungnya, sebut saja Bunga (14).

Informasi dihimpun metro24, Kamis (30/7/2020), peristiwa itu berawal perceraian J dan istrinya setahun silam. J membawa ketiga anaknya tinggal bersama. Untuk menghidupi keluarganya, J bekerja sebagai nelayan.

Seiring perjalanan waktu, J mulai merasakan kesepian. Sejak ditinggal istrinya, ia bingung mau menyalurkan arus bawahnya ke mana. Mau jajan ke lokali-sasi, isi kantong tidak mendukung. Untuk melakukan self service atau ona-ni, ia malu pada usia yang sudah kepala empat.

Nah, saat sedang duduk santai, ia melihat putri sulungnya, Bunga melintas. Meski baru masuk bangku sekolah menengah atas (SMA), Bunga sudah memancarkan ketertarikan seorang remaja. Bahkan J sampai melan air liur melihatnya.

Dalam kondisi tersebut, J pun tunduk kepada bisikan setan. “Kenapa bingun-bingung menyalurkan syahwat. Di depan ada sasaran empuk yang digaransi bersih dari penyakit,” bisik setan.

J yang konak langsung menubruk Bunga saat sedang di dalam kamar mandi rumahnya yang sepi. Dua anaknya yang lain sedang bermain di luar. Hari itu tersalurkanlah bira-hi J yang lama terpendam. Cukup? Tentu saja tidak. Pengalaman di kamar mandi membuat ayah badau ini ketagihan. Jumat (24/7/2020 ia kembali mengulangi perbuatan bejatnya.

Ketika dua anaknya yang lain masih asyik bermain di luar rumah, J menyelinap ke kamar korban. Di situ ia kembali mengga-gahi darah dagingnya sendiri.

Karena tak pernah mendapat perlawanan dari korban, J pun seolah menemukan kembali kelelakiannya. Ia tak takut lagi ketika urusan arus bawah meminta diselesaikan.

Tanpa ia sadari, korban sudah tak kuat dengan perlakuan ayahnya. Begitu pelaku keluar, korban mendatangi bibinya, Eka Cipta (33) di dusun sebelah. Eka Cipta merupakan adik kandung J. Kepada Eka Cipta, korban mengungkap perbuatan bejat ayahnya.

Sontak sang bibi geram dan mengadukan hal itu ke keluarga lainnya. Saat itu juga, mereka mendatangi kediaman pelaku. Awalnya ketika diinterogasi oleh Eka dan warga, pelaku membantah tuduhan korban. Bahkan pelaku menjawab plintat-plintut. Hal itu membuat warga emosi.

Apalagi di mata mereka, korban sangat baik dan tidak berbohong. Pukulan dan tendangan pun dilayangkan ke tubuh pelaku.
Beruntung, perangkat Desa Sei Apung cepat datang dan meredakan emosi warga. Selanjutnya mereka menggiring pelaku ke Pos Bagan Asahan yang meneruskannya ke Polres Asahan guna penyelidikan lebih lanjut.

“Tersangka pelaku ca-bul kami amankan, mengaku kalau perbuatannya itu akibat sudah lama ditinggal oleh istrinya,” ujar Kapolres Asahan AKBP Nugroho Dwi Karyanto SIK kepada metro24.co.

Hal itu diamini pelaku ketika diwawancarai wartawan di Mapolres Asahan. Pelaku mengaku kalau aksinya itu akibat sudah lama sendiri ditinggal istri karena cerai. “Menyesal dan khilaf saya, Bang. Saya menodai anak kandung saya sendiri. Gimanalah malunya nanti keluarga saya,” ujar pelaku. (dri/metro24.co)