KSAD Jenderal Andika Perkasa saat memberikan keterangan pers

MEDAN-M24

Jarimu harimaumu. Gegara postingan istri, dua anggota TNI AD mendapat tindakan tegas. Seorang Dandim bahkan dipenjara.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Andika Perkasa menjatuhkan sanksi tegas pada dua anggota TNI AD. Salah seorang diantaranya menjabat komandan kodim (Dandim) langsung dicopot dari jabatannya dan ditahan.

Komandan Kodim itu diketahui baru sekitar dua bulan menduduki jabatannya. Keduanya dihukum karena istri mereka memosting soal penusukan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto di media sosial.

Loading...

“Sehubungan dengan beredarnya postingan di sosial media menyangkut insiden yang dialami oleh Menko Polhukam, maka Angkatan Darat telah mengambil keputusan. Pertama kepada individu yang juga merupakan istri dari anggota TNI AD, yang pertama berinisial IPDN, dan yang kedua adalah LZ,” kata Andika di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, seperti dikutip dari tribunnews.com, Jumat (11/10).

IPDN merupakan istri dari Komandan Kodim Kendari, Kolonel HS. Sedangkan LZ istri dari Sersan Dua inisial Z. Kedua orang itu diarahkan ke ranah peradilan umum. Sementara suami mereka mendapat tindakan tegas dari TNI AD.

Kolonel HS dan Sersan Dua Z disebut telah memenuhi pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2014 yaitu hukum disiplin militer.

“Konsekuensinya, kepada Kolonel HS tadi sudah saya tandatangani surat perintah melepas jabatannya dan akan ditambah dengan hukuman disiplin militer berupa penahanan selama 14 hari, penahanan ringan selama 14 hari,” ujarnya.

“Begitu juga dengan Sersan Z, telah dilakukan surat perintah melepas dari jabatannya dan kemudian menjalani proses hukuman disiplin militer,” ujarnya.

Andika mengatakan sudah menandatangani proses serah terima atau pelepasan administrasi keduanya. Tapi, baru hari ini (12/10) akan dilepas oleh Panglima Kodam di Makassar karena masuk di Kodam Hasanuddin yaitu Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Profil Kolonel Hendi
Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (11/10/2019), Kolonel Hendi diketahui merupakan lulusan Akabri tahun 1993. Hendi diketahui belum lama menjabat Dandim Kendari.

Serah-terima jabatan Dandim Kendari kepada Kolonel Hendi digelar pada 19 Agustus lalu. Di bawah kepemimpinan Hendi, Kodim Kendari beralih dari tipe B menjadi tipe A. Baru dua hari lalu, Kolonel Hendi memimpin upacara kenaikan pangkat 44 prajurit TNI di wilayah Kodim Kendari.

Sebelum menjadi Dandim Kendari, Hendi diketahui pernah menjabat Dandim 0303/Bengkalis pada 2011. Dia juga pernah bertugas di luar negeri.

Kolonel Hendi diketahui pernah bertugas sebagai Atase Darat Kantor Atase Pertahanan (Athan) RI di Moskow, Rusia. Hendi pun berpindah tugas pada Oktober 2018. Kini Hendi harus merelakan jabatan barunya meski baru 2 bulan menjabat.

Sementara itu, sebelumnya diberitakan, dalam video yang terbaru menampilkan penyerangan Menkopolhukam Wiranto tampak pelaku SA menghujamkan senjatanya sambil berlari. Wiranto yang tengah menyalami pejabat setempat langsung terjengkang dalam hujaman ketiga.

Pelaku Abu Rara dengan tiba-tiba menyerang dari sisi belakang mobil yang ditumpangi Wiranto. Ia melewati ajudan dan secepat kilat menghujamkan senjatanya ke arah perut bagian kanan. Tampak hujaman senjatanya terarah ke bagian perut sebelah kiri Wiranto dengan genggaman menikam.

Polri menyebut penusukan Menkopolhukam Wiranto pada Kamis (10/10/2019) oleh Abu Rara dilakukan secara spontan. Bahkan pelaku juga tak mengetahui bahwa yang ditusuknya adalah Wiranto.

“Tindakan serangan SA (Abu Rara), sifatnya spontan.Dia sudah punya framing, sasaran dia (pemerintah atau polisi) dan mengatakan tidak tahu siapa (yang ditusuk),” kata Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo.

Dari pengakuan yang disampaikan kepada penyidik, aksi spontan Abu Rara tersebut dipicu dengan keramaian yang muncul di sekitar Alun-Alun Menes. Menurut Dedi, SA menyampaikan kepada penyidik bahwa ada kapal (helikopter) dan masyarakat yang berbondong-bondong ke alun-alun, dia pun spontan ikut menuju ke sana.

“Dia bilang ke istrinya, saya akan serang Bapak yang turun dari heli, kamu langsung tusuk anggota polisi yang dekat dengan Bapak itu,” lanjut dia.

Adapun jarak kediaman Abu Rara dan FA dari alun-alun hanya 300 meter. Mereka bersama anaknya, kemudian datang untuk mendekati sasaran yang mereka maksud. Menurut Dedi, momentum keramaian seperti demikian, yang dimanfaatkan pelaku untuk melakukan serangan kepada pemerintah dan kepolisian.

Apalagi pelaku mengaku stress dan tertekan karena perekrutnya, yang merupakan pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Abu Zee tertangkap polisi. Alhasil, pelaku pun melakukan aksinya dengan menusuk Wiranto yang tengah mendatangi area tempat tinggalnya, di kawasan Mendes, Pandeglang, Kamis (10/11/2019).

Abu Rara dan Istri Ingin Ditembak
SYAHRIL Alamsyah (31) alias Abu Rara dan istrinya, Fitri Adriana, berharap ditembak mati petugas saat menikam Menko Polhukam Wiranto, sehingga aksi mereka dianggap jihad.

Mereka, sudah mengetahui aksinya akan coba digagalkan petugas, sehingga sejoli itu siap mati atau ditangkap.

“Dari pemeriksaan, mereka sudah berkomitmen menyerang pejabat dan polisi. Harapan mereka ditembak, sehingga mereka komitmen melakukan perlawanan semaksimal mungkin dan sampai ditembak.
Supaya matinya itu jihad, dan jihadnya berhasil,” ungkap Dedi.

Sebelumnya, Dedi Prasetyo mengakui, pihaknya sudah mengintai Abu Rara dan istrinya, tiga bulan belakangan. Namun, pihaknya, kata Dedi Prasetyo, saat itu belum dapat membekuk penikam Menkopolhukam Wiranto tersebut, karena belum ada bukti permulaan kejahatan yang cukup.

Dedi menerangkan kelompok teroris punya beberapa tahapan sebelum beraksi. Tahap pertama, perencanaan dan membangun komunikasi. Setelah itu, ada tokoh yang melakukan rekrutmen yang dilanjutkan dengan taklim untuk menyampaikan ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, termasuk cara-cara berjihad. Lalu, kelompok tersebut akan melakukan pelatihan setelah ada penilaian dari tokoh tersebut terhadap rekrutmen yang dianggap sudah punya kemauan cukup kuat untuk bergabung. Setelah pelatihan, barulah mereka merencanakan amaliah atau aksi.

“Ini (Abu Rara) masih tahap ketiga, artinya berjaga-jaga sudah kita lihat, taklim umum sudah kita lihat, taklim khusus sudah kita pantau. Belum ada perbuatan melawan hukum di situ terjadi. Dia tidak melakukan idad (pelatihan). Abu Rara ini baru sekali bersentuhan dengan Abu Zee,” ujarnya.

Keluarga Tak Terlibat Teroris
Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto memastikan keluarga dari Abu Rara (31), pelaku penusukan Menko Polhukam Wiranto, tidak terlibat aksi teroris.

“Kalau kita lihat survey dari atau penggeledahan di rumah kakaknya, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda terpapar jaringan terorisme,” kata Agus dalam keterangan persnya di Mapolda Sumut, Jumat (11/10).

Namun Agus mengatakan, Abu Rara, pelaku penusukan Menko Polhukam Wiranto diduga kuat terlibat jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang diduga jaringan kelompok dari Bekasi.

Sesuai informasi yang beredar, jendral bintang dua ini juga tidak menampik kalau Abu Rara, eks warga Medan. “Kemungkian yang bersangkutan ini (Abu Rara), terpaparnya pada saat dia merantau ke Jawa,” ujarnya.

Belakangan diketahui jika Abu Rara pernah menjadi tahanan di Mapolrestabes Medan, karena membawa lari istri keduanya. Pasalnya, pernikahan itu tidak direstui oleh keluarga istri.

“Jadi ini masih kami cek, kami ketahui istri Abu Rara ada tiga. Yang tidak setuju keluarga dari istri keduanya. Sedangkan dia ditangkap di sana (Pandeglang) bersama dengan istri ketiganya,” ucap Dirreskrimum Polda Sumut, Kombes Pol Andi Rian saat ditemui di Mapolda Sumut, Jumat (11/10).

Sementara itu, Kepala Lingkungan 5 Jln Alfaka VI, Kel Tanjungmulia Hilir, Kec Medan Deli, Rizaldi menambahkan, Abu Rara pernah stres ditinggal istri keduanya. Selanjutnya Abu Rara pindah ke Jawa membawa dua anaknya yaitu Ry (15) dan Rt (13).

Abu Rara disebut lulusan Fakultas Hukum salah satu universitas di Kota Medan. Walau sempat menjadi tim advokasi buruh, ia tak punya pekerjaan tetap. (ahmad/syamsul/net)