STABAT-M24
Aktivis kebudayaan, Tengku Zainuddin berhasil menginventarisir artefak budaya, berupa 11 tempayan berumur 50 hingga 100 tahun. Langkah ini ditempuh untuk menyelamatkan jejak budaya masyarakat Melayu di Pesisir Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

“Kita patut bersyukur, ternyata masih ada orang-orang desa yang peduli dan selama ini mau merawat peninggalan sejarah ini. Artefak budaya ini harus diselamatkan, agar generasi mendatang paham bahwa nenek moyangnya punya kearifan tersendiri dalam menjalani hidup dan kehidupan ini,” ujar aktivis yang juga peneliti dari Lingkar Nalar Indonesia (LNI), saat ditemui sejumlah jurnalis di Stabat, Langkat, Minggu (28/4).

Aktivis berlatar advokat dan mediator bersertifikat ini kemudian menceritakan bagaimana ke-11 tempayan atau di belahan bumi lain disebut guci itu bisa dia inventarisir. Menurut dia, semua bermula dari langkah LNI menelusuri jejak budaya orang laut.

“Kita di LNI sebelumnya telah bersepakat menjalankan proyek ‘Telusur Jejak Budaya Orang Laut’, sebagai langkah awal kita menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 5/2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Proyek yang nantinya akan didedikasikan sebagai bahan masukan bagi pemerintah ini kami awali dengan melakukan penelitian di Desa Perlis, Kelantan, Kec Berandan Barat dan Desa Teluk Meku, Kec Babalan, Kab Langkat,” ungkapnya.

Loading...

Nah, dalam proses penelitian itulah kemudian Tengku Zainuddin bertemu dengan orang-orang yang menyimpan dan merawat tempayan-tempayan berusia tua dimaksud. Butuh waktu tak sebentar baginya untuk bisa meyakinkan bahwa artefak yang dimiliki orang-orang desa itu amat besar artinya bagi pengembangan kebudayaan bangsa.

“Sebelumnya, sudah cukup banyak kolektor yang berburu untuk memiliki benda tersebut. Mereka menawarkan uang dengan jumlah cukup menggiurkan. Akhirnya, lewat dialog berkali-kali, kita berhasil meyakinkan pemilik artefak untuk tidak melepas barang berharga itu kepada kolektor. Akhirnya, mereka pun memercayakan barang-barang itu untuk diinventarisir di Anjungan Penelitian LNI di Desa Perlis,” tukasnya.

Tengku, demikian aktivis ini akrab disapa, menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada perangkat Desa Perlis maupun Kelantan, juga kepada tokoh-tokoh masyarakat setempat, yang memberi izin dan bantuan moril atas upaya penyelamatan artefak budaya dimaksud. Dia juga berharap kepada perangkat pemerintahan di level yang lebih tinggi untuk menaruh perhatian khusus akan hal ini.

Lantas, dukungan apa yang selama ini diberikan Pemerintah Kabupaten Langkat maupun Provinsi Sumatera Utara terhadap LNI dalam upaya penyelamatan artefak budaya orang laut di Pesisir Langkat? Menjawab pertanyaaan jurnalis tersebut, Tengku hanya tersenyum sembari berkata, “Mungkin nanti ada. Tapi, secara pribadi ada sahabat-sahabat yang ambil peduli, salah satunya Datuk Setia Abdi Negeri, H. Ngogesa Sitepu, SH.”

Semasa menjabat Bupati Langkat, lanjut Tengku, Datuk Setia Abdi Negeri berkenan menjadi dewan penyantun dalam proyek penelitian LNI di Pesisir Langkat. Karenanya, hasil temuan di Desa Perlis dan Kelantan akan disampaikan secara khusus kepada Sang Datuk.

“Kita ini orang beradab, maka adab harus dijunjung. Kita akan temui Datuk Setia Abdi Negeri secara khusus untuk menjabarkan apa yang sudah kita lakukan di Langkat,” tutupnya. (Donny)