Iming-Iming Bisnis CPO, Mantan Kapolsek Medan Timur Ditipu Rp2 Miliar

5
Terdakwa Paiman alias Amin di persidangan.

PN MEDAN-M24
Mantan Kapolsek Medan Timur, Kompol Wilson Bugner Pasaribu menjadi korban penipuan. Tak tanggung-tanggung, perwira polisi itu ditipu senilai Rp2 miliar.

Hal itu terungkap saat, Paiman alias Amin (42) warga Jln Sunggal, Perumahan Somerset Blok C-18, Kel Sunggal, Kec Medan Sunggal duduk di kursi pesakitan ruang Cakra 9, Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (6/2) sore.

Di dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jacky Situmorang menyebutkan pada bulan Juli 2017, Paiman bertemu saksi korban Satria Purnama. Keduanya membicarakan bisnis jual-beli/perdagangan CPO. Saat itu, Satria pun menyetujuinya lantaran diimingi bahwa harga CPO terus naik dan keuntungan bagi hasil 7 persen.

Masih di dalam dakwaan JPU Jacky, Paiman pun menjamin bahwa modal Satria sejumlah Rp1 miliar yang masuk dalam perusahaannya aman. “Terdakwa Paiman alias Amin kembali meminta tambahan modal kepada saksi korban Satria Purnama. Namun pada saat itu saksi korban tidak memiliki uang sehingga saksi korban menghubungi Wilson Bukner Pasaribu pada Agustus 2017. Saat itu Paiman diberikan uang Rp1 miliar,” kata JPU Jacky.

Kepada Wilson, Paiman pun menjanjikan keuntungan sebesar 5 persen dari Rp1 miliar uang yang ditanamkan di awal. Pada November 2017, Wilson melalui istrinya kembali menyetor uang sebesar Rp1 miliar.

Kemudian uang milik kedua korban tersebut dikelola Paiman untuk perdagangan CPO. Beberapa kali, Paiman pun sudah mengirimkan uang keuntungan terhadap Satria Purnama dan Wilson Bukner Pasaribu.

Kepada Satria Purnama, Paiman telah menyerahkan bagi hasil sebesar Rp490 juta, sementara terhadap istri Wilson, Paiman telah menyerahkan Rp560 juta. Hingga Maret 2018, kedua korban mengeluh lantaran keuntungan yang dijanjikan lambat laun tak pernah ada. Paiman mengaku telah merugi sebesar Rp3 miliar.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 sub Pasal 372 KUHPidana. Sementara itu, dalam keterangannya di hadapan Ketua Majelis Hakim Syafril Batubara, saksi korban Satria Purnama mengaku mengenal terdakwa melalui temannya.

Satria mengatakan bahwa pekerjaan Paiman sebagai pengusaha perdagangan CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit kasar, sudah banyak dikenal diantara teman-temannya. Lantaran hal tersebut ia pun tergiur untuk bergabung. “Jadi Pak Hakim. Saya tertarik dengan beliau ini karena teman-teman saya sudah ada yang ikut gabung ke perusahaannya,” ujar Satria.

Usai mendengarkan keterangan saksi, Majelis Hakim mempersilahkan terdakwa berbicara apakah ada keterangan saksi yang dibantahnya.

Dengan tegas, lalu terdakwa menjawab pasca tak bisa lagi membayar, dirinya ada disuruh datang ke Polsek Medan Timur. Di sana, tepatnya di dalam ruangan Kapolsek saat itu Kompol Wilson Bukner Pasaribu, dirinya disuruh menandatangani surat. “Yang mengonsep penyidik Pak Daulay di ruang Kapolsek. Saya terpaksa tanda tangan karena takut diintimidasi. Itu saja Pak Hakim,” tutupnya.

Akhirnya Majelis Hakim menunda persidangan hingga pekan depan, dengan agenda masih mendengarkan keterangan saksi. (ansah)

editor: donny