Lokasi pembantaian korban oleh para pelaku

MEDAN BARU-M24
Misteri tewasnya Afdillah (19) mulai terungkap. Dua terduga pelaku disebut-sebut sudah diamankan pihak kepolisian.

Hal itu disampaikan ayah kandung korban, Defrizen yang ditemui metro24 di rumah duka, Jln Starban Gg Sawoh, Polonia, Medan Polonia, Selasa (9/7). “Katanya sudah dua orang ditangkap Jatanras. Tapi belum tau pastilah, sore ini kami memang mau ke Polres (Polrestabes Medan,red) lihat perkembangannya,” ujar Defrizen.

Informasi yang diperoleh keluarga, lanjut Defrizen, kedua terduga pelaku yang diamankan adalah DN alias Divo dan Y. Divo diamankan di loket KUPJ Jln SM Raja, Senin (8/7) malam. Diduga Divo hendak kabur ke luar kota.

“Kalau si Y nggak tahu kami kapan ditangkap. Tapi kabarnya sudah diamankan,” jelasnya.

Loading...

Saat ini, pihak keluarga masih menunggu informasi dari pihak kepolisian terkait musibah yang menimpa bungsu dari empat bersaudara itu. Dengan mata berkaca-kaca, Defrizan mengilas balik kenangan terhadap korban.

“Dia orangnya tegas dan rajin. Sehari-hari dia kerja sebagai driver Go-Car (taksi online),” ucap Defrizen yang merupakan kepala lingkungan setempat.

Afdillah, lanjut Defrizen, sebelumnya mengecap pendidikan sekolah menengah atas (SMA) di Bandung. Bahkan ia tergolong berprestasi di lingkungan sekolah, terkhusus ekstra kulikuler (ekskul).

“Kemarin dia sempat kuliah di Medan, tapi putus, dia mau kerja. Dulu dia di Bandung ikut ekskul Taekwondo. Dia sudah sabuk hitam dan pernah dapat medali di kejuaraan antar sekolah,” tuturnya.

Defrizen mengaku sempat menasehati Afdillah. “Sebelumnya sudah saya nasehati, kau kerja uangnya kemana? Tiap hari narik pakai mobil tapi pas pulang minyak mobil selalu habis. Apa saja kebutuhanmu rupanya?” kenang ayah 4 anak ini.

Pantauan metro24, rumah duka masih dipadati para pelayat. Sementara jasad Afdillah telah dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Gang Wakaf, tak jauh dari rumahnya. Di antara para pelayat tersebut terdapat teman-teman korban. Bahkan mereka memiliki dugaan terkait kematian Afdillah.

“Almarhum dijemput teman kami, si Juan. Kebetulan ada kawan yang baru buka warkop, jadi kami mau bantu-bantu di warkop. Terus mendiang minjam kereta, katanya mau jemput si Divo,” ungkap teman-teman Afdillah yang tak mau namanya disebut.

Namun, belum jauh Afdillah menarik gas keretanya, lanjut mereka, Divo sudah berada tak jauh dari Warkop sedang berjalan kaki. Di sana, keduanya pun berniat keluar berdua untuk makan malam bersama.

“Katanya mau jemput, karena si Divo minta jemput. Tapi ada yang bilang, mereka ketemu dekat warkop juga. Si Divo jalan kaki,” jelas pria berbaju kaos hitam itu.

Dalam perjalanan menuju tempat makan, Divo disebut-sebut meminta Afdillah menghentikan laju keretanya. Divo disebut-sebut hendak mengambil tas di dalam mobil yang diduga dikendarai para pelaku.

“Mereka mau makan di KFC (Jalan Gajah Mada), terus si Divo nyuruh berhenti mau ngambil tas di mobil. Di situlah nggak berapa lama dibantai mendiang sama para pelaku,” jelasnya.

Melihat Afdillah dihabisi dengan senjata tajam, Divo dikabarkan kabur. Beruntung, seorang teman korban, Sabina melintas dan melihat Afdillah. Sabina kemudian membantu melarikan korban ke rumah sakit. Namun nyawa Afdillah tak dapat tertolong.

Afdillah sendiri diketahui baru dua bulan menjalin hubungan asmara dengan Divo. Namun, korban sempat bersitegang dengan W. Pasalnya W pernah membawa Divo ke Berastagi.

“Dari situ memang sudah saling enggak suka mendiang ini sama si W. Ada rekaman chatting si W sama mendiang yang isinya mereka berdua mau duel one by one. Di dalam chat itu tertulis ‘di depan rumah kau aja kita duel, biar dekat ngantar jenazahnya’,” ungkap rekan Afdillah.

Sebelum peristiwa sadis itu, salah seorang rekan Afdillah sempat melihat dua unit mobil. Diduga mobil berisi para pelaku. “Si Juan katanya lihat dua mobil. Kabarnya si W itu pun ada di dalam mobil itu,” bebernya lagi.

Mendengar penuturan teman-teman korban, abang kandung Afdillah pun mengaku heran dengan tindakan Divo. “Kalau memang manusia, pasti cewek itu menjerit lihat adik saya dihabisi di situ. Kok dia malah lari? Ada apa ini?” tukas abang kandung korban keheranan.

Sementara itu versi lain datang dari pihak kepolisian. Kanit Reskrim Mapolsek Medan Baru, Iptu Philip Purba mengatakan, Minggu (7/7) sekitar pukul 22.30 WIB, saksi atas nama Sabina melintas di Jln Gajah Mada, Kel Petisah Tengah, Kec Medan Petisah. Di situ, ia melihat korban (Afdillah) yang mengendarai Honda Scoopy BK 670 AID warna coklat milik Juannara Sahputra sedang berhenti di pinggir jalan.

Saksi juga melihat mobil Toyota Avanza warna putih berhenti di dekat korban. Sembari melintas, saksi melihat banyak lelaki yang turun dari mobil tersebut mengerumuni korban.

“Melihat hal tersebut saksi langsung memutarbalikkan kretanya ke arah korban. Lalu saksi mendapati korban sudah luka dan seluruh tangan korban berlumur darah,” ucap Philip, Senin (8/7) malam.

Ketika itu, lanjut Philip, korban berkata kepada saksi, ‘ayok kejar orang itu’. Korban langsung mengambil alih kreta saksi dan mengejar pelaku. Namun baru berjalan sekitar 20 meter korban menabrak tiang listrik. Melihat itu, saksi langsung memanggil becak untuk membawa korban ke rumah sakit.

Kebetulan ada Tim Brimob yang patroli, sehingga saksi dikawal ke RS Herna. Namun, korban menghembuskan nafas terakhirnya. Pada tubuh korban ditemukan 3 luka tusuk pada bagian dada, kaki dan dagu.

Petugas lalu melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan sejumlah saksi. Dari keterangan saksi Juannara Sahputra, sebelumnya korban berangkat dari Warkop Bu E yang beralamat Jln Sei Bahorok, berboncengan dengan seorang perempuan. Adapun saat itu korban sempat cekcok dengan laki-laki.

“Menurut keterangan saksi, penyebab korban bermasalah dengan diduga pelaku adalah karena permasalahan asmara,” beber mantan Kanit Reskrim Mapolsek Medan Sunggal ini.

“Saat ini Unit Reskrim Polsek Medan Baru sedang mengejar diduga para pelaku. Perkembangan lanjut akan kami sampaikan,” pungkas Philip. (tiopan)