MEDAN-M24
Mengembalikan ruang sosial yang mulai hilang serta menciptakan ikon daerah dengan memanfaatkan infrastruktur humanis menjadi salah satu pembahasan dalam focus group discussion (FGD) di Kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Kompleks Lapangan Merdeka Medan, baru-baru ini.

Dalam diskusi terarah yang bertujuan menjaga nilai-nilai budaya dan mempererat kekerabatan antar masyarakat, tercetus ide membangun kota modern tanpa menghilangkan nilai budaya.

Hadir dalam FGD ini Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Medan, Muhammad Husni.

Turut hadir inisiator Gerakan Boemi Poetera yang sekaligus Pembina Yayasan Lingkar Nalar Indonesia (LNI), Tengku Zainuddin, bersama rombongan terdiri dari Muhammad Aulia, Alex Ginting dan Awid. Sementara, Lurah Karang Berombak, Suhardi hadir mewakili aparatur Kecamatan Medan Barat bersama Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Kec Medan Barat. Turut hadir pula utusan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Medan.

Loading...

FGD ini sebenarnya turut mengundang pihak Dinas Pariwisata, Dinas Kebudayaan dan Dinas Pekerjaan Umum. Namun, tanpa alasan jelas, ketiga dinas yang sebenarnya sangat berkaitan dengan pembahasan di FGD ini tidak mengirimkan utusan.

Menurut Tengku Zainuddin, di Kota Medan terdapat sejumlah artefak budaya yang bisa dijadikan ikon guna peningkatan kepariwisataan serta menambah penghasilan bagi masyarakat. Salah satunya Titi Bambu di Kelurahan Karang Berombak, Medan Barat.

“Namun kita miris dengan kondisinya saat ini. Titi yang menjadi jejak peradaban itu masih digunakan warga untuk menyeberang, meski parah kondisinya. Selain berbahaya bagi para pengguna, kawasan tersebut juga dikhawatirkan menjadi kawasan tak sehat dan bisa menjadi sarang penyakit masyarakat,” buka Tengku Zainuddin.

Ditambahkannya, kawasan sekitar Titi Bambu tersebut ternyata sangat banyak menyimpan talenta-talenta seni dan kebudayaan yang sempat masyhur di Kota Medan. Namun dengan kondisinya saat ini, daerah tersebut seperti terbengkalai dan perlu perhatian.

“Jika kita ingat ada artis Medan, Tomblok, itu berasal dari sana. Selain itu, kalau kita sedikit me-rewind ingatan kita, di daerah tersebut dulunya ada pembuat tape, makanan tradisional yang sangat enak,” papar Tengku Zainuddin, yang langsung dibenarkan oleh Muhammad Husni.

Oleh karena itu, Tengku Zainuddin mengajak semua pihak yang hadir dalam FGD ini untuk sama-sama membenahi kawasan tersebut, terutama Titi Bambu-nya yang humanis, untuk menambah keindahan.
“Setidaknya kita perbaiki jembatan tersebut dengan tidak meninggalkan ciri khasnya. Tetap menggunakan bahan awalnya,” ajak budayawan ini.

Selain itu, lanjut dia, Yayasan LNI mendorong semua pihak untuk memperindah kawasan Titi Bambu dengan beragam unsur seni. Selain diharap menjadi objek wisata lokal, setidaknya kawasan tersebut bisa menjadi lokasi nyaman dan asri bagi warga sekitar.

“Yang kita ketahui dalam masyarakat kita ini hanya ada dua kebiasaan yang masih kental di masyarakat. Yakni Tek-tekan (sumbangan seikhlas hati yang dikumpulkan dari masyarakat) dan Lek-lekan (begadang beramai-ramai apabila ada hajatan maupun kemalangan). Jika itu masih bisa bertahan kenapa yang lain tidak bisa kita galakkan lagi,” katanya.

Menyikapi hal ini, Muhammad Husni mengatakan pihaknya akan berkonsentrasi dengan urusan kebersihan di Kawasan Titi Bambu. “Karena tupoksi utama dari dinas kita adalah kebersihan. Jadi kita siap mendukung kegiatan yang sangat bermanfaat bagi orang banyak dan untuk memperindah Kota Medan ini, khususnya Kecamatan Medan Barat dan Kelurahan Karang Berombak,” ujar Husni yang diketahui aktif di Gerakan Pramuka dan kesenian tradisional ini.

Lurah Karang Berombak, Suhardi seusai FGD mengatakan pihaknya sangat mendukung kegiatan sosial yang bisa menjadikan Titi Bambu sebagai ikon wilayah.

“Mudah-mudahan segera terwujud dan bisa menjadi contoh bagi wilayah lain. Kita sangat mendukung kegiatan ini. Mungkin langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan sosialisasi dengan para kepala lingkungan,” tutupnya. (donny)