Polisi paparkan Robby Meyer

MEDAN-M24

Kurang lebih 4 tahun 3 bulan masuk daftar pencarian orang (DPO), Robby Meyer, tersangka kasus penguasaan lahan di daerah Polonia ditangkap Polda Sumut.
Dalam paparannya, Dirkrimum Polda Sumut, Kombes Pol Andi Rian, menceritakan Robby masuk DPO pada Januari 2015. Robby ditangkap pada Selasa (10/9).

Proses penangkapan Robby berawal dari informasi pada Selasa (10/9) sekira pukul 23.00 WIB. Petugas merespon ke rumah Robby Meyer di Komplek Pemda, Jalan Karya I, Kel Karang Berombak, Kec Medan Barat.

“Kita sempat menunggu 7 jam dari jam 11 malam sampai jam 6 pagi. Kita gedor pintu rumahnya tidak dibuka, akhirnya kita menunggu,” terangnya.

Loading...

Dikatakannya kasus yang melibatkan Robby Meyer ini awalnya dilaporkan di Polresta Medan -kini Polrestabes Medan- pada tahun 2010.

“Ia terkait dengan dugaan pemalsuan surat, menggunakan surat palsu dan memanfaatkan keterangan palsu dalam fakta autentik,” ujarnya.

Ia menggunakan alas hak seolah-olah bahasa Belanda yang menyatakan Uittreksel De Afdelingshef Van Del 1949.

“Tapi kita sudah tanyakan kepada ahli seperti BPN maupun ahli lainnya bahwa itu bukan merupakan alas hak,” terangnya.

Andi Rian menyatakan untuk satu objek lahan di daerah Polonia yang luasnya sekarang kurang lebih 5 hektar, kalau dihitung sekarang nilai asetnya mencapai Rp100 miliar.

Pada tahun 2011, LP ini sempat dihentikan. Kemudian oleh korban yang diketahui bernama Arsyad Lis dari PT Anugrah Dirgantara Perkasa, dilakukan gugatan praperadilan. Kemudian gugatan ini dikabulkan oleh pengadilan dan memerintahkan penyidik untuk membuka kembali kasus ini.

“Termasuk juga sudah melakukan gelar perkara di Mabes Polri di Wasidik Kabareskrim dan juga menyampaikan hal yang sama yaitu membuka dan menindaklanjuti perkara tersebut,” terangnya.

Kemudian saat itu, sambungnya, penyidik Poltabes -kini Polrestabes Medan- pada saat itu menerbitkan SPDP (surat perintah dasar penyidikan) kembali pada tahun 2014.
Menindaklanjuti SPDP baru itu, tersangka dipanggil beberapa kali tidak hadir sehingga masuk DPO pada 27 Januari 2015.

Masih dikatakan Andi Rian, awalnya Arsyad ini mendapat izin lokasi dan pembangunan ada 47 hektar secara keseluruhan. Namun, pada tahun 2005 sebanyak 42 hektar sudah dialihkan ke SHM.

“Nah yang 5 hektar lagi, masuklah si pelaku Robby ini. Sementara hak izin lokasi dan pemanfaatan lahan itu milik satu perusahaan. Dan sekarang tanahnya tidak bisa diapa-apakan,” bebernya.

Ia menegaskan semua proses pemeriksaan kepada yang bersangkutan akan dilakukan.

“Semua orang yang masuk dalam dokumen akan kita periksa,” katanya.

Ia menyatakan tujuh berkas asli yang ditandatangani Lurah Polonia, salinan akte ditandatangani notaris atas nama Ratnawati Siregar. Kemudian surat keterangan yang dikeluarkan oleh Lurah Polonia.

“Ada yang sempat dijual, dan dijual kepada Mario Meyer yang merupakan keluarga si Robby dan akan kita ungkap,” jelasnya.
Mengenai lahan yang sudah dijual, pihaknya akan faktakan dulu, karena lahan ini milik ahli waris Alm Tju Tam Soon. (ahmad)