Terdakwa Zulfadly mendengarkan tuntutan JPU. (foto: anggun/metro24.co)

MEDAN, Metro24.co – Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Medan, Rocky Sirait, menuntut Zulfadly, terdakwa pembunuhan paman kandung dengan hukuman selama 5 tahun penjara.

Tuntutan ini dibacakan JPU dalam sidang lanjutan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Syafril Batubara, di Ruang Cakra V Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (19/2/2020).

Dalam persidangan terungkap, terdakwa Zulfadly nekat menghabisi nyawa paman kandungnya, Nizam, karena dimarahi saat membawa ayam dan entok curian ke dalam rumah.

“Terdakwa secara sah dan meyakinkan melakukan penganiyayaan sehingga merenggut nyawa seseorang, dituntut lima tahun penjara, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 338 KUHPidana,” ujar JPU dalam amar tuntutannya.

Kasus berawal pada Juli 2019, saat itu terdakwa bersama dengan saksi Agus Trianda dan saksi Ferdi alias Uci datang ke rumah korban Nizam di Jalan Teratai, Gang Bunga No. 121, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Medan Polonia. Mereka datang membawa ayam dan bebek curian.

“Terdakwa bertemu dengan korban, lalu korban menegur terdakwa dengan mengatakan, ‘Kenapa kau bawa-bawa hewan curian ke rumah ini’. Terdakwa pun menjawab, ‘Ini rumah ayahku juga, ada hakku di sini’.”

Karena tak senang ditegur, terdakwa dan korban kemudian terlibat cekcok mulut. Korban kemudian menyerang leher terdakwa dengan cakaran, namun berhasil dielakkan. Terdakwa pun membalas dengan meninju bagian kepala belakang korban berulang kali,” ungkap JPU.

Saksi Agus Trianda dan saksi Ferdi alias Uci serta saksi Rizky Atrasyah yang saat itu berada di tempat tersebut langsung melerai pertengkaran terdakwa dan korban.

Setelah itu korban pergi meninggalkan terdakwa dalam keadaan sempoyongan masuk ke kamarnya. Namun terdakwa masih emosi, ia melemparkan sebuah kursi plastik serta dua buah batu bata ke arah kaca rumah korban. Sehingga kaca rumah menjadi pecah.

Kemudian terdakwa pergi menemui korban ke kamarnya, namun pintu kamar dikunci dari dalam, sehingga terdakwa menggedor-gedor pintu kamar korban namun korban tidak keluar dari dalam kamar.

Akibat korban tidak keluar dari dalam kamarnya sehingga terdakwa pergi meninggalkan korban dari rumah tersebut. Setelah terdakwa pergi, tidak berapa lama korban keluar dari dalam kamar dengan keadaan sempoyongan dan akhirnya terjatuh dan tergeletak di lantai depan kamar.

Selanjutnya warga memberi pertolongan kepada korban dengan membawa korban ke rumah sakit. Namun tiba di rumah sakit dan diberi pertolongan akhirnya korban meninggal dunia.

“Sesuai dengan Visum yang menyimpulkan dari hasil pemeriksaan luar dan dalam penyebab kematian korban adalah akibat pukulan benda tumpul pada puncak kepala dan kepala bagian belakang kiri yang menyebabkan perdarahan pada pangkal batang otak dan otak kecil dan odema selebri diserta serangan benda tumpul pada leher dan dada sebelah kiri yang menyebabkan patahnya tulang dada sebelah kiri,” tambah JPU.

Setelah mendengarkan tuntutan jaksa, hakim ketua Syafril Batubara menunda sidang hingga pekan depan. (anggun/metro24.co)

 

Editor: H Talib