Windi, istri Taufik Hidayat

MEDAN-M24
BEGITU mendapat kabar suaminya tewas diamuk warga, Windi Ika Dara langsung membawa kedua anaknya balik ke Medan. Selanjutnya, ia menuju rumah kontrakan abang iparnya, Edi, di Jln Tuba 4 Gg Pembangunan 7, Kel Tegalsari Mandala 3, Kec Medan Denai. Di situ ia menunggu kedatangan jasad suaminya dari RS Bhayangkara Medan.

Windi mengaku sudah mengikhlaskan kepergian suaminya yang tragis. “Saya hanya pasrah aja menjalankan hidup ini bersama kedua anak saya. Saya ikhlas dengan kepergian suami serta memaafkan para pelaku yang menuduh suami saya pencuri juga yang menganiaya suamiku hingga meninggal,” tutur Windi.

Sementara itu, abang kandung korban, Edi, mengaku terkejut mendengar peristiwa yang menimpa adiknya. Bahkan Edi yang sehari-hari bekerja menarik becak ini harus berutang untuk mengeluarkan mengurus jasad sang adik. Mulai urusan administrasi RS Bhayangkara hingga dikebumikan di perkuburan belakang Kantor Lurah Binjai, Kec Medan Denai atau yang dikenal Perkuburan Sulang Saling.

“Terpaksa malam adikku (Taufik baru dikebumikan) dan itupun terpaksa difardukifayahkan di RS Bhayangkara karena sudah kemalaman. Bagaimana tidak kemalaman, cari uang kemana saya? Soalnya ambil jenazah saya keluar uang Rp1,7 jutaan. Alasan pihak RS Bhayangkara bahwa korban diantar ke mari masih dalam keadaan hidup dan itu uang perawatannya saat masih hidup. Bayar mandikan mayat dan mengkafaninya kena Rp800 ribu serta bayar ambulan Rp300 ribu, terpaksa saya harus pinjam uang ke sana ke mari, agar adik saya dapat keluar dan dikuburkan,” tukasnya.

Pun begitu, Edi dan saudara-saudara lainnya ikhlas atas kepergian saudara bungsu mereka. Meskipun mereka harus berbohong kepada orangtuanya yang menderita sakit ginjal parah di Banda Aceh.

“Kami bilang aja Taufik masuk penjara karena nabrak orang. Nanti pelan-pelan baru kami jelaskan ke ibu kami,” pungkasnya. (irwan)