Reynhard Sinaga bersama orangtuanya. (foto: Facebook)

MANCHESTER, metro24.co – Identitas mahasiswa pascasarjana asal Indonesia, Reynhard Sinaga (36), diungkap pengadilan Great Manchester, setelah dia dinyatakan terbukti bersalah, Senin (6/1/2020) kemarin.

Pria kelahiran Jambi itu ‘dinobatkan’ sebagai Pemerkosa Berantai Terganas di Dunia oleh sejumlah media ternama Inggris. Menurut laporan ekslusif media Inggris DailyMail, Reynhard Sinaga (36), diperkirakan sudah ‘memangsa’ setidaknya 195 pemuda.

Polisi menduga, jumlah korban mungkin lebih banyak dari pengaduan yang masuk. Hakim yang mengadili Rey (sapaan akrabnya), menjatuhi hukuman selama 30 tahun penjara tanpa pembebasan bersayarat.

Pria yang sedang menulis disertasi doktoral itu selalu mencari korban dari kalangan mahasiswa/pelajar heteroseksual di Manchester. Saat beraksi, Rey selalu membius korbannya menggunakan GHB (Gamma-hydroxybutyrate) atau biasa disebut ekstasi cair sebelum memperkosa dan merekam adegan mesumnya.

Rey dinyatakan terbukti bersalah dengan tuduhan 159 ‘serangan’, termasuk 136 pemerkosaan, 8 percobaan perkosaan dan 15 perbuatan tidak senonoh terhadap 48 korban. Dalam kesehariannya di Inggris, meski tinggal di sebuah flat (rumah susun) berantakan, di dekat Gay Village Manchester, Rey, selalu membual tentang gaya hidup mewah keluarganya yang kaya raya di Indonesia.

Kehidupannya di Inggris sebagai ‘mahasiswa abadi’ didanai oleh kiriman sang ayah, yang merupakan taipan properti yang bermukin di bilangan Depok, Jawa Barat.

Menurut pengakuan seorang mantan temannya, Rey enggan kembali ke Indonesia karena orangtuanya Saibun Sinaga dan Normawaty br Silaen ingin dia segera menikah. Kedua orangtuanya sama sekali tidak mengetahui bahwa putra mereka adalah gay.

“Ayahnya adalah orang yang sangat kaya (di Indonesia). Mereka memiliki rumah besar di Jakarta. Dia selalu membual soal pelayan, supir dan segala macam,” kata mantan teman Rey itu, seperti dikutip dari DailyMail, Rabu (8/1/2020).

Rey yang memiliki adik perempuan dan laki-laki, benar-benar menikmati gaya hidup Manchester yang serba liberal dan toleran. Sejak menetap di sana, dia tak lagi menyembunyikan orientasi seksualnya. Kepada temannya tersebut, Rey selalu mengaku bahwa dia akan berpenampilan lebih konservatif saat mengunjungi keluarga di tanah air.

“Kesan saya adalah, bahwa keluarganya mungkin mengentahui dia tidak normal, tetapi dia (Rey) tidak pernah memberi tahu mereka bahwa dirinya adalah gay. Dia biasa mengganti warna rambut dan pakaian saat pulang (ke Indonesia),” ungkapnya lagi.

Kamar kontrakan Rey di Montana House hanya beberapa ratus meter dari Gay Village Manchester dan setiap bar dan klub malam yang berada di sudut blok sering dikunjungi para pemuda yang menjadi korbannya.

“Dia dulu sering berkencan dan kebanyakan tidur juga. Keluarganya sangat kaya, sehingga dia tidak pernah bekerja dan selalu keluar selama minggu dengan orang berbeda, itu yang aku ingat,” ungkap sang mantan teman.

Rey–yang disebut terobsesi dengan Spice Girls ketika dia tumbuh dewasa–mengatakan bahwa, keluarganya tak pernah memahaminya dan menganggap dirinya aneh. “Orangtuanya berusaha mempertemukannya dengan gadis dari negaranya. Mereka ingin dia menikah dan punya keluarga,” jelas mantan temannya.

Diketahui, Reynhard Sinaga datang ke Inggris menggunakan visa pelajar pada tahun 2007 silam, ketika dia masih berusia 24 tahun, setelah dia lulus sebagai sarjana Teknik Sipil dari Universitas Indonesia.

Rey kemudian menyelesaikan magister di bidang Perencanaan di Universitas Manchester. Rey kemudian melanjutkan studi dengan mengambil magister di bidang Sosiologi dan diwisuda pada 2011. Agar tetap bertahan di Inggris, Rey kemudian melanjutkan studi doktoral di Universitas Leeds di bidang Geografi dan selalu pulang pergi dari Manchester untuk bimbingan disertasinya yang berjudul, ‘Seksualitas dan Transnasionalisme Keseharian Pria Gay dan Biseksual Asia Selatan di Manchester’ (Sexuality and Everyday Transnationalism. South Asian Gay and Bisexual Men in Manchester).

Dia menulis makalah ilmiah tentang beberapa topic tentang ‘Queer Geography’ (Geografi Penyimpangan Seksual), yang beberapa di antaranya sudah dipublikasikan secara online. Tapi, akademisi menilai bahwa makalahnya itu belum memenuhi standar yang dibutuhkan untuk tingkat doktoral.

Universitas Leeds kemudian membekukan statusnya setelah Rey ditangkap pada 2017 lalu, sebelum memecatnya setelah dia menjalani persidangan pertama pada 2018.

Punya Orangtua Angkat Gay

Rey juga disebut merupakan penganut Katolik yang taat saat menjalani kehidupannya di Manchester.

Dia selalu mengikuti kebaktian di Gereja St John dan St Chrysostom, Gereja Anglican liberal di Rusholme, yang hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer dari rumah kontrakannya. Di sana, Rey menjalin pertemanan dengan dua gay yang lebih tua, dan selalu menyebut kedua orang itu sebagai ‘Orangtua Gay’-nya.

Terungkapnya kasus Rey merupakan kejutan sangat tidak menyenangkan bagi pihak keluarga–yang secara reguler selalu mengunjunginya di Inggris. Menurut laporan DailyMail tersebut, kedatangan terakhir mereka adalah saat dia ditahan di penjara.

Salah seorang kerabatnya, Sahat Sinaga–seorang konglomerat minyak sawit yang berbasis di Jakarta–mengakui, bahwa kasus ini merupakan kabar mengejutkan bagi keluarga Rey. Ibu dan adiknya yang merupakan seorang dokter memberikan kesaksian bagi Rey saat dia disidang.

Hakim Suzanne Goddard QC menegaskan bahwa ibu dan adiknya tidak mengetahui sama sekali tentang kekejian yang telah dilakukan Rey dan menggambarkannya sebagai, ‘pemerkosa yang penuh tipu muslihat serta penuh perhitungan’.

“Mereka memang sama sekali tidak mengetahui hal ini. Mereka (keluarga Rey) sangat terkejut,” tegas Sahat. Sementara itu, ayah Rey, Saibun Sinaga tidak bersedia memberikan komentar kepada DailyMail, terkait kasus yang menimpa anaknya. (*)

 

Editor: H Talib
Sumber: dailymail