Polisi melakukan penggalian mayat korban

LANGKAT-M24

Hidup Muhammad Ibrahim Ramadan alias Akil berakhir mengenaskan. Setelah disiksa ayah tirinya hingga tewas, jasad anak bawah lima tahun (balita) ini ditanam di lereng oleh ibu kandungnya.

Warga Dusun I Desa Panco Warno, Kec Salapian, Kab Langkat gempar. Mereka menemukan makam berisi jenazah Muhammad Ibrahim Ramadan alias Akil.

Informasi dihimpun, peristiwa menghebohkan itu berawal kecurigaan warga yang tak melihat Akil di sekitar rumahnya di Dusun III Batu Guru, Desa Ponco Warno, Kec Salapian, Kab Langkat sejak lima hari belakangan. Padahal sehari-hari, Akil dikenal ceria dan selalu bermain di sekitar rumah.

Loading...

Di rumah itu, Akil yang berusia dua tahun tiga bulan diketahui tinggal bersama ibu kandungnya, Sri Astuti (28) dan ayah tirinya, Riki Ramadan Sitepu (30), warga Desa Sei Tembuh, Kel Pekan Kuala, Kab Langkat.

Penasaran, Selasa (28/8), warga pun mendatangi rumah Riki Ramadan Sitepu. Namun, warga mendapati rumah tertutup. Tak tampak tanda-tanda kehidupan di dalamnya.

Kecurigaan warga jika telah terjadi sesuatu kepada Akil menguat. Mereka langsung membuat laporan ke Kepolisian Sektor (Polsek) Salapian. Selanjutnya, bersama Babinsa Koramil Salapian, anggota Polsek Salapian, Aiptu Wahyu, Aiptu Darman, dan Aiptu Chandra, mereka melakukan pencarian.

Setiba di lokasi, tepatnya areal kebun karet milik Sinar Tarigan, Rabu (4/9) sekitar pukul 23:59 WIB, warga menyium aroma tak sedap. Di situ juga warga melihat gundukan tanah mencurigakan.

Dengan sigap, petugas Babinsa dan kepolisian menggali gundukan tanah tersebut. Benar saja, di dalamnya mereka tubuh kaku Akil yang terbungkus kain. Ya, Akil telah meninggal dunia. Selanjutnya jasad korban dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Bhayangkara Polda Sumut di Jln KH Wahid Hasyim, Medan untuk keperluan otopsi.

Hasil visum luar ditemukan luka di bagian bahu, kaki, tangan, bokong dan luka bakar di bagian tangan, kuping serta bahu. Akil korban pembunuhan. Siapa pelaku dan motif pembunuhan sadis itu?

Bhabinkamtibmas Desa Panco Warno, Bripka Ramidi bersama Babinsa Koramil dan warga kembali melanjutkan mencari orangtua korban, Sri Astuti dan Riki Ramadan Sitepu. Tak sia-sia, keduanya pun berhasil ditemukan.

“Pasangan suami istri ini ditemukan sedang berjalan di sekitar Jln Binjai menuju Bukit Lawang. Langsung kita lakukan penghadangan dengan sepeda motor,” kata Kapolres Langkat, AKBP Doddy Hermawan SIK melalui Kasat Reskrim, AKP Tengku Fathir SH di Mapolres Langkat, Kamis (5/9).

Saat diinterogasi, Riki Ramadan Sitepu mengakui telah melakukan penganiayaan terhadap anak tirinya hingga tewas. Dimana pelaku memukul korban di bagian bahu, kaki, tangan dan pantat korban. Tak hanya itu, pria yang bekerja mocok-mocok ini juga menyulut api rokok di bagian tangan, kuping dan bahu.

Tindak kekerasan itu sudah berlangsung sejak 19 hingga 25 Agustus 2019. “Pelaku mengaku melakukan penganiayaan karena korban kerap merengek,” beber Tengku Fathir.

Puncaknya, setelah dianiaya, pelaku memasukkan korban ke dalam goni kemudian digantung di luar gubuk. Siapa sangka, tindakannya itu membuat nyawa korban melayang. Panik, pelaku pun memanggil istrinya yang tak lain ibu kandung korban.

Mirisnya, Sri Astuti justru membantu pelaku membawa jasad anak kandungnya ke tempat kejadian perkara (TKP). Di lereng berkedalaman 50 meter, Sri Astuti juga ikut mengubur jasad korban ke lobang yang mereka gali.

“Kedua tersangka telah ditahan dan dijerat Pasal 340 juncto Pasal 338 KUHPidana sub Pasal 80 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak,” tegas Tengku Fathir. (rudi)