Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan/Foto: Rachman Haryanto

JAKARTA, Metro24.Co – Uni Emirat Arab bakal mengucurkan investasi senilai US$ 20 miliar ke Indonesia. Jika dikonversi dalam rupiah nilai investasi itu sekitar Rp 280 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, investasi dari Uni Emirat Arab sebagai bukti Indonesia tak bergantung kepada China. Pernyataan ini disampaikan Luhut karena menurutnya pemerintah kerap dituding terlalu pro China.

“Jadi jangan bilang China, China melulu. Jangan tuduh kita pro China saja, kita siapa saja (bisa) yang mau saja, asal memenuhi 5 syarat kriteria (investasi) kita,” ujar Luhut ditemui di kantor Kementerian Koordinator Kemaritiman, Jakarta, Senin (6/1/2020).

Rencananya, investasi tersebut akan disepakati saat Presiden Joko Widodo bertemu Pangeran Mohammed bin Zayed bin Sultan Al Nahyan di Abu Dhabi pada 13 Januari 2020.

“Nilainya (investasi) yang mau ditandatangani Presiden Joko Widodo itu sebesar US$ 20 miliar,” kata Luhut.

Kesepakatan itu antara lain mencakup kerja sama di bidang energi, kesehatan, agrikultur, pendidikan, infrastruktur, manufaktur dan Sovereign Wealth Fund (SWF) atau dana abadi.

“Sudah mencakup semua itu, terutama ada 4 petrokimia,” sambungnya.

Kerja sama di bidang petrokimia dan petroleum yang telah disepakati adalah kesepakatan antara Pertamina dan ADNOC (Abu Dhabi National Oil Company) untuk pengembangan kilang di Balongan.

Kemudian, kerja sama antara Masdar dan PLN untuk kesepakatan pembangunan panel tenaga surya terapung 145 GW (PLTS Cirata). Kerja sama Pertamina dan Mubadala untuk pengembangan kilang di Balikpapan.

Kemudian kerja sama antara EGA dan Inalum untuk pengembangan smelter dan hydropower berbasis 500.000 ton per tahun aluminium smelter di Kalimantan Utara. Kemudian kerja sama Chandra Asri dan ADNOC dengan kontrak jangka panjang.(hns/hns/detik.Com)

Editor : S Tandang