Akhyar Nasution (tengah) saat masih di PDI Perjuangan Sumut. (foto: ist/metro24.co)

MEDAN, Metro24.co – Sebagai kader tulen PDI Perjuangan Sumut yang merangkak dari bawah, Akhyar Nasution tak dicalonkan PDI Perjuangan pada Pilkada Medan. Padahal saat ini Akhyar menjabat sebagai Plt Walikota Medan.

Lalu apakah Akhyar kecewa dan lalu keluar dari partai yang dibesarkannya? Ketua Relawan Jadikan Akhyar Medan Satu (JAMU), Ustad Ade Darmawan tak menjawabnya dengan tegas. “Jiwa nasionalismennya tak keluar, tetap Soekarnoisme,” katanya dalam konferensi pers ‘Menjawab Tuduhan Djarot Terhadap Akhyar’ di Kantor Travel Ar-Rahman, Jalan Sei Batanghari, Medan, Rabu (29/7/2020).

Ketua Baitul Muslimin Indonesia (BMI) Medan-organisasi sayap PDI Perjuangan dan Wakil Ketua Bidang Ideologi DPC PDI Perjuangan Medan sebelum mengundurkan diri hari ini tersebut mengatakan, meski diusung Partai Demokrat dan PKS pada Pilkada Medan 2020, Akhyar tetap ‘merah’.

Ade Darmawan mengatakan, saat menjalin komunikasi politik dengan partai pengusungnya, Akhyar sempat mendapat candaan dari salah seorang ketua DPP Partai Demokrat. “Orang DPP Demokrat bilang, meski dicalonkan Demokrat (biru) dan PKS (putih), warna Akhyar tetap merah,” ujarnya.

Dia mengatakan, punya alasan tersendiri mengapa sampai mengundurkan diri sebagai kader dan pengurus DPC PDI Perjuangan Medan. “Hari ini saya mengundurkan diri, karena sudah tak sesuai hati nurani. Jika pun Pilkada Medan ada kotak kosong, kami punya alasan sendiri mengapa tak pilih Mas Bobi,” sebutnya.

Kepada puluhan wartawan, Ade kemudian menyebutkan sejumlah tekanan yang diterima kubu Akhyar karena tetap maju di Pilkada Medan. Dia tak menyebut siapa yang melakukan tekanan, namun tekanan itu masif.

“Bahkan, sampai ada kadis yang takut membuat foto Akhyar di spanduk program Pemko Medan, padahal Akhyar masih Plt Walikota Medan. Harusnya tak perlu saling serang, tapi masing-masing main program untuk Kota Medan ke depan agar lebih baik lagi,” katanya lagi.

Sebelumnya diberitakan, Ade Darmawan menjawab semua tuduhan Plt Ketua DPD PDI Perjuangan Sumut, Djarot Saiful Hidayat, yang menyebutkan alasan mengapa Akhyar tak dicalonkan oleh partainya sendiri.

“Selama ini Akhyar diserang, dan ada yang bilang, “Kok diam saja?”. Makanya kami hari ini akan menjawab semua tuduhan yang disampaikan Mas Djarot pada tanggal 19 Juli lalu,” kata Ade Darmawan.

“Mas Djarot mengatakan, PDI Perjuangan tak mencalonkan Akhyar yang notabenenya kader tulen pada Pilkada Medan 2020. Alasannya, Mas Djarot menyebut Akhyar terseret kasus MTQ Medan 2019,” sebutnya.

“Perlu kami jelaskan, Akhyar tidak ada sangkut pautnya dengan MTQ. Akhyar bukan kuasa pengguna anggaran (KPA) dan juga pengguna anggaran (PA). Jadi ini framing yang ditujukan kepada Akhyar yang kemudian diperiksa dalam dugaan kasus tersebut,” ujarnya.

“Tapi perlu diingat, tahun 2016 lalu pencalonan Mas Djarot sebagai kontestan Pilkada DKI Jakarta juga dibayangi kasus reklamasi. Meski akhirnya tak terbukti, Akhyar juga tak terbukti di kasus MTQ. Lalu mengapa yang satu bisa dicalonkan, yang lain tidak,” tambahnya.

“Mas Djarot bilang, Akhyar tak dicalonkan PDI Perjuangan juga karena terkait kasus korupsi Dzulmi Eldin. Faktanya, yang sempat dicekal KPK bukan Akhyar, tapi justru anggota DPRD Sumut si A, yang kita tahu kawan siapa dia,” ucapnya.

Ade Darmawan juga menjawab tuduhan Djarot yang menyebut Akhyar pindah partai karena haus kekuasaaan. Ini setelah Akhyar dicalonkan Partai Demokrat dan PKS dalam Pilkada Medan karena tak dicalonkan partainya sendiri.

“Kami jawab tidak, bukan haus kekuasaaan, tapi Akhyar ingin melawan kezaliman. Kalau Akhyar haus kekuasaan, tentu Akhyar menerima tawaran menduduki jabatan penting dan strategis, dan tidak maju dalam Pilkada Medan,” terangnya.

Ade mengatakan, pada Januari 2020 lalu ada sejumlah pihak yang menemui Akhyar di suatu tempat di Medan. “Mereka menawarkan jabatan penting kepada Akhyar, asal tak maju, tapi kompensasi itu ditolak Akhyar. Kalau ada anak muda mau maju ke Pilkada Medan, ya maju saja, tapi harus fair play,” imbuhnya.

Baik dirinya mau pun Akhyar merupakan orang yang paling berkeringat pada Pilgub Sumut 2018, Pileg 2019 untuk PDI Perjuangan, juga saat Pilpres. “Tapi sudahlah, ini politik, besok lawan, hari ini jadi kawan, besok kawan, hari ini lawan, tapi harus fair play,” sebutnya.

Karena berbeda kepentingan, Ade Darmawan hari ini telah mengirimkan surat pengunduran diri sebagai kader dan pengurus PDI Perjuangan. “Selain sebagai Ketua BMI Kota Medan, saya di DPC PDI Perjuangan Medan juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Ideologi. Jabatan saya sama dengan Mas Djarot, saya di Medan, Mas Djarot di pusat,” sebutnya. (ht/metro24.co)