Akhyar Nasution. (foto: istimewa)

MEDAN, Metro24.co – Memimpin pemerintahan sekaligus juga menyandang gelar sebagai politisi, nama Akhyar Nasution menjadi sosok yang saat ini dinilai sederhana. Selain berasal dari keluarga yang hidupnya juga sederhana, ‘kader tulen’ PDIP ini banyak dicap sebagai manusia ‘pekerja’.

Saat diwawancarai wartawan, pengamat politik dan pemerintahan, Shohibul Ansor Siregar menyampaikan bahwa nama Akhyar Nasution, dikenal selalu berpikir praktis dan efektif. Bagaimana mendapatkan sesuatu tanpa harus menyusahkan orang lain.

Meskipun Plt Walikota Medan itu, berangkat sebagai kader dari partai politik sejak puluhan tahun lalu.

“Ada politisi yang ketat, ada juga yang fleksibel. Beliau (Akhyar Nasution) ini ada di nomor satu. Karena sesungguhnya dia kan orang pekerja. Insinyur yang nasionalis dan religius. Itu dapat kita ketahui sejak beliau pernah menjadi anggota DPRD Kota Medan,” ujar Shohibul dalam keterangan tertulis yang diterima metro24.co, Jumat (24/1/2020).

Dengan begitu, berangkat dari kesederhanaan hidup, Shohibul pun melihat bahwa cara memimpin seorang Akhyar Nasution lebih ke arah menyelesaikan tugas secara efektif dan efisien. Apalagi beberapa kolega dan teman-teman memandang Akhyar sejak dahulu sebagai orang/politisi yang jujur apa adanya.

“Dia ini kan selalu masuk di kepengurusan partai politik di hampir setiap tingkatan mulai dari bawah. Bahkan juga menduduki jabatan-jabatan strategis. Karena itu pula, kesetiaannya di partai ini hampir dilihat sebagai nilai lebih,” jelas koordinator lembaga Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya (nBasis) ini.

Pun begitu, Shohibul menilai Akhyar Nasution sebagai politisi pekerja, nama Plt Walikota Medan itu menurutnya sudah banyak belajar dari pengalaman di partai politik, para kolega dan teman-teman yang selama ini memberikan masukan.

“Itu jugalah yang membuat namanya dikenal. Dia hampir tidak pernah membuat sesuatu yang buruk dan berpotensi merusak hubungan. Bahkan saat aktif sebagai Wakil Walikota, Akhyar Nasution juga seperti memahami bahwa kehadirannya untuk membantu atasan,” tambah Shohibul.

Pendapat Sohibul itu pun kemudian dibuktikan dengan hubungan antara Akhyar dengan koleganya yang selama kepemimpinan sebagai Wakil Walikota, hampir tidak terdengar ada wacana ‘tak harmonis’ antara kepala daerah dan wakilnya.

“Yang pasti, dengan kesederhanaannya, Akhyar Nasution kini sudah belajar dari senior-senor dan pendahulunya. Seorang kader di partai Nasionalis, tetapi punya sisi religius yang tinggi. Secara politik agak kurang selaras memang, tetapi itulah Akhyar, kader yang Nasionalis Religius,” pungkasnya. (red/metro24.co)

 

Editor: H Talib